Kamis, 16 Januari 2014

Peran Penyuluhan Dalam Pengembangan Kawasan Minapolitan di Daerah Sedati

BAB I
PENDAHULUAN

1.1.   Latar Belakang
Indonesia merupakan negara kepulauan yang memiliki wilayah laut yang sangat luas. Hal ini merupakan potensi sumber daya terpendam yang sangat besar untuk dikembangkan. Sektor kelautan dan perikanan sangat dibutuhkan perannya untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, termasuk nelayan dan keluarganya.
Sebagian besar kegiatan perikanan di Indonesia tidak memiliki dasar teori maupun ilmu pengetahuan yang benar tentang dunia perikanan.  Untuk mengajarkan para pembudidaya dan nelayan tentang dunia perikanan maka dibutuhkan proses penyuluhan yang baik. Dengan adanya penyuluhan maka masyarakat perikanan dapat mendapatkan keuntungan yang maksimal dari pekerjaan mereka yang berhubungan dengan dunia perikanan.
Dalam kegiatan usaha perikanan, terlibat tiga unsur utama yaitu komoditas perikanan, lingkungan dan manusia sebagai pengelolanya. Upaya meningkatkan pendapatan rumah tangga nelayan dapat dilakukan melalui perbaikan pengelolaan proses produksi dan pasca panen perikanan tangkap maupun budidaya, penerapan teknologi yang tepat, memperbaiki keadaan lingkungan, serta sangat penting untuk meningkatkan kemampuan manajemen dan sumber daya manusianya.

1.2.   Tujuan
Mengamati kegiatan perikanan yang ada di daerah Sedati serta mengamati penyuluhan yang sudah dilakukan guna meningkatkan sumber daya manusia pada bidang perikanan yang dilakukan sesuai dengan yang dibutuhkan oleh para nelayan dan petani ikan yang ada di daerah Sedati. 

1.3.   Rumusan Masalah
Banyaknya masyarakat perikanan yang belum mengetahui tentang teori budidaya serta teori – teori lainnya tentang dunia perikanan. Hal ini menyebabkan pendapatan masyarakat perikanan tidak maksimal dan pada akhirnya akan menyebabkan kemiskinan.
Untuk mengatasi masalah ini, harus dilakukan penyuluhan oleh dinas perikanan maupun pihak lain yang memiliki pengetahuan tentang perikanan. Penyuluhan tersebut harus dilakukan dengan langsung terjun ke lapangan dan mempraktekkannya, sehingga masyarakat perikanan yang menjadi peserta penyuluhan percaya dan mau melakukan segala sesuatu yang diajarkan dalam penyuluhan tersebut. 
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.      Tinjauan Pustaka
2.1.   Pentingnya Penyuluhan
Suatu masyarakat tidak dapat maju dengan sendirinya tanpa adanya pembangunan. Pembangunan itu sendiri akan berlangsung bila masyarakat telah dapat lepas dari problema kehldupan yang dihadapi. Sebagian besar masyarakat memiliki· persoalan kehidupan yang spesifik.
Petani ikan dan nelayan memiliki persoalan kehidupan yang khas, yang umumnya masih berkutat dengan persoalan peningkatan taraf hidup dan kesejahteraan. Dengan semakin berkembangnya inovasi dan teknologi di bidang peri kanan, maka diperlukan sebuah kegiatan untuk melakukan perubahan-perubahan kepada masyarakat untuk mengatasi isu yang dihadapi terlebih dahulu.
Guna melaksanakan perubahan tersebut, diperlukan kegiatan penyuluhan yang merupakan wahana untuk melakukan perubahan. Penyuluhan sangat diperlukan dalam pengembangan masyarakat tani dan nelayan agar masyarakat mampu mandiri.

2.2.   Definisi Penyuluhan
Penyuluhan berasal dari kata suluh yang berarti obor. Dalam hal ini tentu dimaksudkan untuk memberikan informasi, wawasan, pengetahuan, ketrampilan, teknologi, dan lain – lain kepaada seseorang atau masyarakat untuk menjadi tahu atau lebih tahu.
Menurut Claar Et al, mengartikan penyuluhan sebagai jenis pendidikan pemecahan masalah yang berorientasi pada tindakan yang mengajarkan sesuatu, mendemonstrasikan, memotivasi, tapi tidak melakukan pengaturan dan juga tidak melaksanakan program yang bersifat non-edukatif.
Dalam konteks yang ada di Indonesia, terutama dalam bidang pertanian, definisi yang diberikan oleh Samsudin mungkin lebih sesuai, yakni sebagai suatu usaha pendidikan non formal yang dimaksudkan untuk mengajak orang sadar dan mau melaksanakan ide – ide baru, dengan tanpa adanya pemaksaan. Adapun Sayogo menyebutkan bahwa penyuluhan adalah suatu proses untuk memberikan penerangan kepada masyarakat tentang segala sesuatu yang belum diketahuinya dengan jelas untuk dilaksanakan dalam rangka meningkatkan produksi dan pendapatan yang ingin dicapai melalui suatu kegiatan. Lebih lanjut menurutnya harus menggunakan falsafah tiga, yaitu teach, truth dan trust, yakni pendidikan, kebenarana dan kepercayaan.
Secara terurai Mardikanto menyebutkan bahwa penyuluhan dapat dipahami sebagai lima proses, yakni sebagai proses penyebaran informasi, proses penerangan, proses perubahan perilaku, proses pendidikan dan proses rekayasa sosial. Sehingga dalam penyuluhan perikanan, untuk menafsirkannya dapat dilihat berdasarkan konteks permasalahan atau materi yang sedang dibahas.

2.3.   Metode Penyuluhan
Terdapat tiga metode penyuluhan yang dapat digunakan dalam pelaksanaan program penyuluhan yaitu:
a)      Pendekatan perorangan, misalnya kegiatan kunjungan perorangan, konsultasi ke rumah, penggunaann surat atau telpon, dan magang.
b)      Pendekatan kelompok, misalnya kursus tani-nelayan, demonstrasi cara atau hasil, kunjungan kelompak, karyawisata, diskusi kelompok, ceramah, pertunjukan film, slide, karyawisata, penyebaran brosur, buletin, folder, liptan, asah terampil, sarasehan, rembug utama atau madya, temu wicara, temu usaha, temu karya, temu lapang dll.
c)      Pendekatan massal seperti pameran, Pekan Nasional (Penas), Pekan Daerah (Peda), Pertunjukan film atau wayang, drama, penyebaran pesan melalui Siaran radio, televisi, surat kabar, selebaran atau majalah, pemasangan poster atau spanduk dan sebagainya.
Metode pendekatan penyuluhan dapat bersifat persuasif, edukatif, komunikatif, akomodatif dan fasilitatif.
·                       Persuasif
Mampu meyakinkan khalayak yang disuluh, sehingga mereka merasa tertarik terhadap hal – hal yang disampaikan
·                       Edukatif
Penyuluh perikanan harus bersikap dan berperilaku sebagai pendidik dengan penuh kesabaran dan ketekunan membimbing masyaarakat
·                       Komunikatif
Penyuluh perikanan harus mampu berkomunikasi dan menciptakan iklim serta suasan sedemikian rupa sehingga tercipta suasana yang akrab, terbuka serta timbal balik.
·                       Akomodatif
Saat diajukannya permasalahan di bidang perikanan oleh masyarakat, penyuluh perikanan harus mampu mengakomodasikan, menampung, dan memberikan pemecahannya dengan sikap dan bahasa yang mudah dimengerti dan dipahami oleh khalayak yang disuluh.
·                       Fasilitatif
Penyuluh perikanan harus mampu memanfaatkan jejaring kerja penyuluhan perikanan untuk menghubungkan antara khalayak yang disuluh dengan pihak yang lain seperti sumer informasi, akses pasar dan lain – lain.

2.4.   Materi Penyuluhan Perikanan
Materi penyuluhan dapat berupa salah satu atau lebih dari enam aspek yaitu :
·                       Aspek Teknologi
Berupa penerapan IPTEK di bidang perikanan atau bidang lainnya untuk mengangkat produktivitas secara bertanggung jawab.
·                       Aspek Manajemen
Penerapan manajemen yang baik dalam rangka efektifitas dan efisiensi untuk meningkatkan kinerja usaha perikanan.
·                       Aspek Ekonomi
Pemanfaatan sumber daya ekonomi yang meliputi antara lain penyediaan modal, saran produksi, informasi potensi sumber daya, informasi prospek dan peluang usaha atau jaringan pasar yang diperlukan untuk mengembangkan.
·                       Aspek Ekologis
Pemahaman dan kesadaran tentang arti penting kelestarian sumber daya alam agar usaha atau kegiatannya dapat berkelanjutan dan menjadi lebih baik pada masa yang akan datang, serta tidak merugikan masyarakat dan lingkungannya.
·                       Aspek Sosial dan Budaya
Pengembangan kondisi sosial dan kesadaran kultural untuk meningkatkan kemampuan dalam menyalurkan aspirasi serta mengembangkan harkat kemanusiaan dan kesejahteraannya, dengan mempertimbangkan adat positif setempat.
·                       Aspek Hukum
Pemberian informasi tentang peraturan perundang – undangan sehingga khalayak yang disuluh menyadari hak dan kewajibannya sebagai warga negara khususnya yang terkait dengan bidang perikanan

2.5.   Pengertian Minapolitan
Minapolitan adalah strategi pembangunan perikanan berbasis kawasan. Program ini adalah program untuk memajukan perikanan yang ada di Indonesia. Dengan adanya program ini diharapkan agar sistem perikanan di Indonesia dapat maju pesat yang nantinya diharapkan menjadi produsen ikan terbesar di dunia.
Kegiatannya mulai dari fasilitasi, pendampingan, pemberdayaan masyarakat, teknologi, pembiayaan, serta pemasaran produk perikanan dan kelautan

2.6.   Keuntungan Kawasan Minapolitan
Kawasan minapolitan merupakan program dari pemerintah. Tentunya, pembentukan kawasan ini memiliki manfaat dan keuntungan bagi dunia perikanan yaitu dengan adanya kawasan minapolitan maka:
·         Akan terbentuk keterkaitan kemakmuran antara wilayah – sinergis dan saling memperkuat sehingga nilai tambah yang diperoleh akan terbagi secara adil dan proporsional berdasarkan atas potensi sumber dayanya.
·         Akan terciptanya pembangunan yang berimbang secara spatial – secara makro akan menjadi prasyarat bagi tumbuhnya perekonomian nasional yang lebih efisien, berkeadilan dan berkelanjutan.
·         Akan terciptanya pertumbuhan yang seoptimal mungkin dari potensi yang dimiliki oleh suatu wilayah sesuai dengan kapasitasnya.

BAB III
PENGAMATAN LAPANGAN
3.      Pengamatan Lapangan
3.1.   Kondisi Masyarakat Perikanan Sedati
Masyarakat perikanan yang ada di Sedati melakukan berbagai macam kegiatan perikanan seperti membudidayakan ikan, memngelola usaha kolam pancing, melakukan penangkapan ikan, serta melakukan kegiatan jual beli di tempat pelelangan ikan yang ada di Sedati. Tetapi saat ditanya tentang cara budidaya ikan, mereka hanya menjawab sekedarnya dan terkadang mereka tidak mengetahui tujuan dari cara budidaya mereka itu.
Mereka tidak mengetahui dengan baik tentang cara budidaya. Selain itu, mereka tidak mengetahui teori yang diterapkan dalam budidaya tersebut. Dengan demikian, permasalahan yang dihadapi nelayan di Sedati adalah:
·                       Keterbatasan dalam pengetahuan tentang budidaya perikanan
·                       Belum adanya teknologi yang memadai dalam teknik penangkapan ikan
·                       Proses budidaya belum maksimal karena hanya berdasarkan pada kebiasaan

BAB IV
PEMBAHASAN
4.      Pembahasan
4.1.   Hubungan antara Sistem Penyuluhan dan Pengembangan Kawasan Minapolitan
Departemen Kelautan dan Perikanan memiliki beberapa tujuan dalam rangka mengembangkan perikanan dan kelautan yang ada di Indonesia dan salah satu tujuan tersebut adalah dengan pengembangan minapolitan. Pengembangan minapolitan ini juga dilakukan melalui enam pendekatan yang salah satunya adalah penyuluhan.
Penyuluhan merupakan salah satu syarat mutlak dalam kesuksesan pengembangan kawasan minapolitan, karena melalui sistem penyuluhan akan didapatkan :
         Penguatan Kelembagaan
         Pengembangan Jumlah Penyuluh
         Berperan Sebagai Fasilisator
         Berperan Sebagai Pendamping Penerapan Teknologi :
§  Penangkapan ikan
§  Budidaya ikan
§  Pengolahan hasil perikanan.

4.2.   Pengembangan Kawasan Minapolitan di Daerah Sedati
4.2.1.                        Melalui Sistem Penyuluhan
   Daerah Sedati merupakan salah satu daerah yang akan dijadikan kawasan Minapolitan. Oleh karena itu, dilakukan berbagai macam penyuluhan yang ditujukan untuk mewujudkan suatu kawasan Minapolitan tersebut. Untuk mewujudkannya, maka dilakukan berbagai macam penyuluhan yang menyangkut peningkatan SDM dan peningkatan mutu hasil perikanan tersebut.
Sistem penyuluhan yang dilakukan di daerah Sedati ini dilaksanakan setiap minggu. Sistem penyuluhan tersebut membahas tentang apa yang dibutuhkan masyarakat perikanan pada saat tersebut, jadi dengan kata lain masyarakatlah yang menentukan topik apa yang akan dibahas dalam penyuluhan tersebut. Sistem ini disebut dengan istilah bottom up, ketika penyuluh tidak dapat memecahkan masalah yang diajukan oleh masyarakat perikanan, maka penyuluh tersebut akan bertanya pada instansi diatasnya hingga permasalahan tersebut terpecahkan dan disampaikan kembali pada masyarakat perikanan tersebut.
Penyampaian materi penyuluhan dilakukan dengan dua cara yaitu :
·         Penyampaian materi dan praktek secara langsung
Biasanya hal ini dilakukan pada penyuluhan tentang pengolahan dan budidaya.
·         Hanya penyampaian materi
Biasanya dilakukan pada penyuluhan tentang penangkapan ikan, karena teknologi penangkapannya tidak berubah.
Masyarakat perikanan di Sedati pada umumnya melakukan sistem budidaya polikultur. Budidaya polikultur yang dilakukan adalah budidaya ikan bendeng dan juga udang. Selain kedua budidaya ini, saat ini juga telah dikembangkan budidaya rumput laut yang dilakukan oleh masyarakat yang ada di daerah pesisir. Dengan sistem budidaya yang seperti ini Departemen Kelautan dan Perikanan telah melaksanakan beberapa aspek penyuluhan yaitu :
1)      Aspek Teknologi
·         Di bidang budidaya, para pembudidaya telah diberi penyuluhan tentang bagaimana cara menebar benih, mengatasi hama dan penyakit, melakukan pembesaran, melakukan penetasan, melakukan panen dan penanganan setelah panen. Penyuluhan ini ditujukan pada pembudidaya yang kebanyakan adalah kaum laki – laki.
·         Di bidang pengolahan, diberi penyuluhan tentang cara mengolah hasil perikanan menjadi sesuatu yang baru yang memiliki nilai jual yang lebih tinggi. Penyuluhan ini lebih ditujukan pada kaum wanita yang terbiasa mengolah bahan mentah menjadi bahan yang siap saji.
·         Di bidang penangkapan, pemberian penyuluhan dilakukan dengan cara memberi teknik penangkapan yang baik agar mendapatkan hasil tangkapan yang maksimal. Selain itu, para nelayan yang melakukan penangkapan bisanya dihimbau untuk membawa es batu yang cukup banyak untuk menjaga kualitas kesegaran dari hasil tangkapannya tersebut. Hal ini biasa disebut sebagai rantai dingin.
2)      Aspek Ekonomi
Dalam aspek ekonomi, para pembudidaya diberi bantuan dari Departemen Kelautan dan Perikanan berupa bantuan dana dan benih.
3)      Aspek Sosial dan Budaya
Dalam aspek ini masyarakat perikanan diajarkan tentang dinamika sosial yang ada dalam masyarakat. Hal ini mengajarkan bagaimana masyarakat perikanan dapat bersosialisasi dengan masyarakat yang lain sehingga dapat melakukan kerja sama dalam kegiatan perikanan

4.2.2.                        Melalui Bantuan Ekonomi
Selain dengan menggunakan penyuluhan program ini juga memberikan beberapa bantuan kepada para pembudidaya yang berupa :
·         Memberi bantuan dana yang berupa paket wirausaha bagi pembudidaya polikultur.
·         Pemberian benih bandeng, udang, dan rumput laut beserta biaya pengolahannya. Benih yang diberikan memiliki jumlah yang berbeda beda.
o   Pada benih bandeng diberikan sebanyak 1 Rean ( 5000 ekor ),
o   Benih udang diberikan sebanyak 2 Rean ( 10000 ekor ).
o   Benih rumput laun diberikan sebanyak 1 ton.
  
BAB V
PENUTUP
5.      Penutup
5.1.   Kesimpulan
Dari data yang telah diperolah, maka dapat disimpulkan bahwa masyarakat perikanan di daerah Sedati telah mendapatkan banyak penyuluhan tentang teknik budidaya, teknik pengolahan, serta teknik penangkapan.
Seluruh teknik yang diajarkan tersebut bertujuan untuk meningkatkan kualitas SDM masyarakat perikanan, karena nantinya kawasan Sedati akan dijadikan kawasan Minapolitan. Kawasan ini merupakan kawasan yang menguasai tentang perikanan yang memiliki visi agar negara Indonesia menjadi produsen ikan terbesar di dunia.
Penyuluhan merupakan salah satu faktor penting yang sangat berpengaruh pada pengembangan kawasan minapolitan, karena dengan adanya penyuluhan maka akan memudahkan mesyarakat perikanan untuk mendapatkan ilmu pengetahuan yang benar tentang dunia perikanan yang kemudian akan memberi efek pada peningkatan kualitas SDM.
5.2.   Saran
Meskipun telah dilakukan penyuluhan, tetapi masyarakan perikanan di daerah Sedati belum sepenuhnya mengerti tentang teknik budidaya, penangkapan dan pengolahan yang benar. Oleh karena itu, diharapkan agar kegiatan penyuluhan lebih sering dilakukan dan lebih mendekat kepada masyarakat, sehingga masyarakat dapat lebih mudah menerima ilmu yang diajarkan pada mereka.
  
Daftar Pustaka
Aminah S. (2003). Perencanaan Program Penyuluhan Perikanan di Desa Anturan, Buleleng, Bali, IPB. Bandung

Samsudin S. (1977).  Dasar – Dasar Penyuluhan dan Modernisasi Pertanian, Bina Cipta, Bandung.
Sayogo B. (1998).  Laporan Penelitian Strategi Penyuluhan Suatu Studi Lkteratur Tentang Strategi Penyuluhan Dalam Proses Difusi Inovasi, UGM, Depdikbud, Yogyakarta.
Sri Rejeki N. Dan Herawati FA (1999). Dasar – Dasar Komunikasi untuk Penyuluhan, Universitas Atmajaya. Yogyakarta.
Suprapto T dan Fachrianoor (2004). Komunikasi Penyuluhan, Arti Bumi Intisari, Yogyakarta.

Oleh : Bagus Rizki Novianto
Fakultas Perikanan dan Kelautan
Universitas Airlangga Surabaya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar