Sabtu, 23 September 2017

CARA BUDIDAYA ARTEMIA SECARA MONOKULTUR

PENDAHULUAN

Pada dasarnya sistem budi daya artemia secara monokultur tidak berbeda  dengan  sistem  tumpang  sari.  Sistem budi  daya  ini merupakan salah satu alternatif yang dapat diterapkan oleh petani apabila harga artemia, baik dalam bentuk kista maupun flake, jauh lebih tinggi dibandingkan dengan garam.  Perbedaan yang mencolok pada kedua sistem tersebut hanya terletak  pada  desain  dan  konstruksi  tambak.  Apabila  pada  system tumpang sari ada petakan kristalisasi maka pada sistem monokultur ini petakan  itu  ditiadakan.  Keuntungannya  ialah  petakan untuk  pemeliharaan menjadi lebih luas sehingga produksi artemia diharapkan lebih tinggi dibandingkan sistem tumpang sari.  

1.      Budi daya artemia dengan sistem  bak
Pembudidayaan artemia dengan menggunakan bak merupakan teknik budi daya yang cukup intensif. Keunggulan sistem ini adalah proses budi daya tidak banyak dipengaruhi oleh kondisi lingkungan, terutama oleh air hujan. Pembudidayaan sistem ini bertujuan untuk kultur massal dengan pemanenan berkala.  Dalam sistem bak ini, kendala yang dihadapi adalah biaya pengadaan bak relatif mahal dan dalam pemeliharaannya memerlukan kontrol yang jauh lebih intensif.  Berdasarkan cara pengaliran air, teknik budi daya ini dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu teknik yang menggunakan system air mengalir  (flow through system)  dan  sistem  air  berputar  (race  way system).

a.  Persiapan Bak Pemeliharaan                                             
Ukuran bak yang digunakan dapat bervariasi, Pemeliharaan yang menggunakan sistem air berputar pada umumnya  menggunakan bak dengan bobot isi 2 – 5 ton, sedangkan untuk sistem  air mengalir menggunakan bak dengan bobot isi 30 - 40 ton. Untuk bahan pembuatan bak dapat digunakan kayu, semen (beton), atau fiberglass. Konstruksi bak dibuat sedemikian rupa sehingga memungkinkan perputaran air secara penuh. Bentuk bak dapat dibuat bulat atau segi empat dengan sudut-sudut yang dibuat melengkung. Untuk membuat terjadinya perputaran air maka digunakan air water lift yang ditempatkan atau dipasang membujur pada dinding bak. Pakan yang telah mengendap dikeluarkan dengan menggunakan saringan. Saringan yang dipasang di dalam bak berukuran 150 - 450 mikron dimaksukkan untuk memisahkan artemia dari sisa-sisa pakan yang akan mengendap. Saringan berikutnya yang berupa bak atau kotak (plote separator) dipasang di luar bak pemeliharaan. Fungsinya sebagai tempat untuk mengendapkan sisa-sisa makanan yang dikeluarkan dari bak tersebut.

b.  Salinitas air media dan  kepadatan  artemia
Apabila bak pemeliharaan artemia telah siap maka air dimasukkan ke dalam bak dengan kedalaman 80 - 100 cm. Penebaran nauplii sebaiknya dilakukan pada sore hari. Tingkat salinitas air media diatur  berdasarkan  tujuan  pemeliharaan  artemia.  Apabila  pemeliharaan artemia bertujuan untuk menghasilkan biomassa maka tingkat salinitas diatur sekitar 30 ppt. Akan tetapi, jika pemeliharaan artemia bertujuan untuk menghasilkan kista maka salinitas media harus dibuat paling tidak 120 ppt.  Untuk mempertahankan pH pada kisaran 7,5 - 8,5 dapat ditamibahkan NaHCO, (natrium bikarbonat) secukupnya.  Dengan pemeliharaan sistem bak ini, tingkat kepadatan artemia pada tahap tanam dapat mencapai 20.000 nauplii per liter untuk sistem mengalir dan  1.000 - 3.000 nauplii per liter untuk sistem air berputar.

c.  Pemberian  pakan

Selama dalam pemeliharaan, artemia diberi makanan alami berupa plankton dan makanan tambahan. Kebutuhan makanan alami adalah sekitar 3 ember/hari, Hal yang harus diperhatikan ukuran pakan tidak boleh lebih dari 50 mikron. Selain itu, pakan yang diberikan harus memiliki kadar gizi yang baik.  Makanan diberikan melalui selang dengan volume tidak lebih dari satu liter dan diberikan secara periodik selang 3 jam sekali.  Jumlah    pakan    tambahan    yang    disiapkan    bergantung    dari    tingkat kepadatan alga dalam media pemeliharaan. Pakan tambahan ini dapat berubah status menjadi pakan utama. dapat digunakan jenis pakan dedak halus, tepung ikan, dan tepung terigu, Hal yang perlu diperhatikan dalam pemberian pakan ini adalah ukuran butiran pakan tidak lebih dari 50 mikron. Untuk mencapa ukuran demikian, pakan perlu diblender selama 10-30 detik kemudian disaring dengan kain mori atau saringan dengan ukuran pori-pori 50 mikron. Setelah disaring, pakan tersebut baru diberikar pada artemia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar