Selasa, 20 September 2016

PEMBESARAN IKAN KERAPU BEBEK

 Latar Belakang
Indonesia sebagai negara kepulauan mempunyai potensi sumberdaya ikan yang sangat melimpah. Dalam pembangunan sektor perikanan selain sebagai penyokong kebutuhan protein hewani bagi masyarakat juga membuka lapangan kerja, menambah pendapatan masyarakat serta sebagai sumber devisa negara. Bahkan saat ini dalam kondisi krisis moneter, komoditas perikanan merupakan komoditas ekspor yang memiliki harga jual yang tinggi di pasar.
Ikan kerapu bebek (Cromileptes altivelis) merupakan salah satu jenis ikan laut yang mempunyai prospek yang cerah dan layak dikembangkan sebagai ikan budidaya laut karena mempunyai nilai ekonomis yang tinggi dipasar lokal maupun internasional. Selain itu Ikan kerapu bebek (Cromileptes altivelis) juga potensial untuk dibudidayakan karena pertumbuhannya relatif cepat, mudah untuk dipelihara, mempunyai toleransi yang tinggi terhadap perubahan lingkungan dan dapat dikembangkan di Keramba Jaring Apung (KJA).
Pengembangan budidaya ikan kerapu bebek (Cromileptes altivelis) merupakan salah satu alternatif yang dapat dilakukan untuk mengembangkan di Provinsi NTB  .  Dilihat dari potensi sumberdaya alam yang tersedia jika dibandingkan dengan tingkat pemanfaatan sampai saat ini masih dirasakan belum optimal. Kondisi ini memungkinkan masih adanya peluang yang perlu dimanfaatkan dan dikembangkan.
1.      Pemilihan lokasi
Menurut Pramu Sunyoto (1993), pemilihan lokasi yang tepat akan mendukung kesinambungan usaha dan target produksi.  Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam memilih lokasi antara lain faktor resiko (terlindung dari angin yang kuat, kedalaman perairan 5-15 meter, bebas dari bahan pencemar, tidak mengganggu alur pelayaran), faktor kenyamanan dan kondisi hidrografi. 
2.      Persiapan Benih
     Benih yang  digunakan lebih bagus berasal dari BBL atau BBAP karena sudah terjamin kualitas benihnya bagus, Ukuran benih yang digunakan petani yaitu 4-5 cm. Padat tebar benih 650 ekor per kantong. Sedangkan menurut Syamsul Akbar dan Sudaryanto (2002), kepadatan optimum untuk pembesaran dalam keramba jaring apung adalah 300 ekor per kantong waring dengan rata-rata panjang 3-4 cm dan berat 1,2 gram. Menurutnya Kepadatan tebar sangat menentukan pemacuan pertumbuhan dan kehidupan ikan. Bila terlalu padat, kecepatan pertumbuhannya berkurang akibat adanya persaingan ruang, oksigen, dan pakan.
3.   Pakan dan pemberian pakan
       Pemberian jenis pakan disesuaikan dengan ketersediaan pakan alami. Pemberian pakan dilakukan 2 kali sehari yaitu pagi dan sore hari dengan cara ditebar secara merata. Menurut Syamsul Akbar dan Sudaryanto pakan yang dapat diberikan dapat berupa ikan rucah segar, atau pakan buatan. Pakan ikan rucah berupa ikan selar, petek, japuh, kembung, tajah dan kurisi. Pemberian pakan dilakukan 3-4 kali sehari pada tahap awal pembesaran, atau sampai ikan kenyang dengan dosis 8 - 10 % dari total biomasa, kemudian pemberian pakan dikurangi 5-8 % dari total berat ikan dan diberikan 2 kali sehari. Sebelum diberikan ikan terlebih dahulu dicacah disesuaikan  dengan bukaan mulut ikan.

4.   Grading (pemilahan ukuran)
Pemilahan ukuran dilakukan sebulan sekali untuk menghindari kanibal diantara ikan. Sedangkan menurut syamsul Akbar dan Sudaryanto (2002),  Ikan kerapu merupakan ikan yang tergolong buas, oleh karena itu dalam kegiatan budidaya harus dilakukan pemilahan ukuran (grading) secara rutin. Pemilahan ukuran dilakukan mulai awal pembesaran dan selanjutnya dilakukan minimal 2 minggu sekali, terutama apabila terjadi variasi ukuran.
5.   Perawatan Waring dan Jaring
       Perawatan dan pengontrolan jaring dilakukan dengan membersihkan jaring dari alga atau kerang-kerangan setelah selesai memberikan pakan. Namun pergantian jaring tidak dilakukan. Hal ini karena melihat kondisi perairan Kecamatan Tilamuta sangat bersih dan belum tercemar sehingga jaring tetap dalam keadaan bersih. Sedangkan menurut  Akbar S dan Sudaryanto (2002), perawatan dan pengontrolan waring dan jaring selama masa pemeliharaan pembesaran mutlak harus dilakukan. Waring dan jaring yang kotor dapat menghambat pertukaran air dan oksigen. Pergantian waring dan jaring yang kotor dengan yang bersih perlu dilakukan minimal sekali sebulan. Waring dan jaring yang kotor dijemur sampai kering, kemudian dicuci dengan cara  disemprotkan air. Setelah bersih, waring dan jaring dijemur kembali sampai kering untuk siap digunakan. Namun, sebelum digunakan kembali waring dan jaring perlu dikontrol keadaannya.          
6.      Panen
       Pemanenan ikan konsumsi dilakukan secara total dengan cara mengangkat jaring pemeliharaan dengan menggunakan kayu. Caranya, kayu dilewatkan dari bawah jaring yang kemudian diangkat sehingga jaring pemeliharaan terbagi menjadi dua. Waktu panen dilakukan pada pukul 10.00 – 18.00. Sedangkan menurut Akbar S dan Sudaryanto (2002), panen dilakukan pada suhu rendah yakni pagi atau sore hari. Panen dan pengangkutan merupakan kegiatan akhir budidaya. Sehingga tidak kalah pentingnya dibanding kegiatan lain. Kesalahan dan keteledoran dalam pemanenan dan Sebelum benih dipanen dilakukan pemuasaan selama 1 hari bertujuan untuk menghindarkan terjadinya buangan sisa-sisa metabolise yang dapat menurunkan kualitas air selama pengangkutan. 
7.      Pasca Panen

       Dalam pengangkutan ikan konsumsi, ada dua hal yang harus diperhatikan,yaitu persiapan dan cara pengangkutan. Persiapan matang terhadap ikan dan bahan pengemassangat diperlukan untuk memperlancar dan melindungi ikan agar tetap segar hingga tiba ditempat tujuan. Persiapan terhadap ikan berupa pemuasaan dan pemilahan ukuran. Pemuasaan bertujuan untuk menghindarkan terjadinya buangan sisa-sisa metabolise yang dapat menurunkan kualitas air. Lama pemuasaan sekitar 6 – 24 jam, tergantung ukuran ikan. Semakin besar ukuran ikan maka pemuasaannya semakin lama. Persiapan bahan pengangkut perlu diperhatikan. Bila bahannya tidak sesuai maka kesegaran ikan hingga tiba di tempat tujuan akan menurun. Ada dua cara pengangkuatan dan bahan pengangkutnya juga berbeda. Untuk pengangkutan terbuka diperlukan bahan pengangkut berupa drum plastik atau fiber glass, aerator, atau oksigen murni, selang dan batu aerasi. Sementara untuk pengangkutan tertutup diperlukan kardus, styrofoam. Plastik, karet, oksigen, dan pita perekat. Selain bahan diatas, bahan lain yang harus disiapkan adalah air laut dan es. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar