Latar Belakang
Indonesia sebagai negara kepulauan mempunyai potensi
sumberdaya ikan yang sangat melimpah. Dalam pembangunan sektor perikanan selain
sebagai penyokong kebutuhan protein hewani bagi masyarakat juga membuka
lapangan kerja, menambah pendapatan masyarakat serta sebagai sumber devisa
negara. Bahkan saat ini dalam kondisi krisis moneter, komoditas perikanan
merupakan komoditas ekspor yang memiliki harga jual yang tinggi di pasar.
Ikan kerapu bebek (Cromileptes
altivelis) merupakan salah satu jenis ikan laut yang mempunyai prospek yang
cerah dan layak dikembangkan sebagai ikan budidaya laut karena mempunyai nilai
ekonomis yang tinggi dipasar lokal maupun internasional. Selain itu Ikan kerapu
bebek (Cromileptes altivelis) juga potensial untuk dibudidayakan karena
pertumbuhannya relatif cepat, mudah untuk dipelihara, mempunyai toleransi yang
tinggi terhadap perubahan lingkungan dan dapat dikembangkan di Keramba Jaring
Apung (KJA).
Pengembangan
budidaya ikan kerapu bebek (Cromileptes altivelis) merupakan salah satu
alternatif yang dapat dilakukan untuk mengembangkan di Provinsi NTB .
Dilihat dari potensi sumberdaya alam yang tersedia jika dibandingkan
dengan tingkat pemanfaatan sampai saat ini masih dirasakan belum optimal.
Kondisi ini memungkinkan masih adanya peluang yang perlu dimanfaatkan dan
dikembangkan.
1.
Pemilihan lokasi
Menurut Pramu Sunyoto (1993), pemilihan lokasi yang tepat
akan mendukung kesinambungan usaha dan target produksi. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam
memilih lokasi antara lain faktor resiko (terlindung dari angin yang kuat,
kedalaman perairan 5-15 meter, bebas dari bahan pencemar, tidak mengganggu alur
pelayaran), faktor kenyamanan dan kondisi hidrografi.
2.
Persiapan Benih
Benih yang digunakan lebih bagus berasal dari BBL atau
BBAP karena sudah terjamin kualitas benihnya bagus, Ukuran benih yang digunakan
petani yaitu 4-5 cm. Padat tebar benih 650 ekor per kantong. Sedangkan menurut
Syamsul Akbar dan Sudaryanto (2002), kepadatan optimum untuk pembesaran dalam
keramba jaring apung adalah 300 ekor per kantong waring dengan rata-rata
panjang 3-4 cm dan berat 1,2 gram. Menurutnya Kepadatan tebar sangat menentukan
pemacuan pertumbuhan dan kehidupan ikan. Bila terlalu padat, kecepatan
pertumbuhannya berkurang akibat adanya persaingan ruang, oksigen, dan pakan.
3.
Pakan
dan pemberian pakan
Pemberian jenis pakan
disesuaikan dengan ketersediaan pakan alami. Pemberian pakan
dilakukan 2 kali sehari yaitu pagi dan sore hari dengan cara ditebar secara
merata. Menurut Syamsul Akbar dan Sudaryanto pakan yang dapat diberikan dapat
berupa ikan rucah segar, atau pakan buatan. Pakan ikan rucah berupa ikan selar,
petek, japuh, kembung, tajah dan kurisi. Pemberian pakan dilakukan 3-4 kali
sehari pada tahap awal pembesaran, atau sampai ikan kenyang dengan dosis 8 - 10
% dari total biomasa, kemudian pemberian pakan dikurangi 5-8 % dari total berat
ikan dan diberikan 2 kali sehari. Sebelum diberikan ikan terlebih dahulu
dicacah disesuaikan dengan bukaan mulut
ikan.
4.
Grading
(pemilahan ukuran)
Pemilahan
ukuran dilakukan sebulan sekali untuk menghindari kanibal diantara ikan.
Sedangkan menurut syamsul Akbar dan Sudaryanto (2002), Ikan kerapu merupakan ikan yang tergolong
buas, oleh karena itu dalam kegiatan budidaya harus dilakukan pemilahan ukuran
(grading) secara rutin. Pemilahan ukuran dilakukan mulai awal pembesaran dan
selanjutnya dilakukan minimal 2 minggu sekali, terutama apabila terjadi variasi
ukuran.
5.
Perawatan
Waring dan Jaring
Perawatan dan
pengontrolan jaring dilakukan dengan membersihkan jaring dari alga atau
kerang-kerangan setelah selesai memberikan pakan. Namun pergantian jaring tidak
dilakukan. Hal ini karena melihat kondisi perairan Kecamatan Tilamuta sangat
bersih dan belum tercemar sehingga jaring tetap dalam keadaan bersih. Sedangkan
menurut Akbar S dan Sudaryanto (2002),
perawatan dan pengontrolan waring dan jaring selama masa pemeliharaan
pembesaran mutlak harus dilakukan. Waring dan jaring yang kotor dapat
menghambat pertukaran air dan oksigen. Pergantian waring dan jaring yang kotor
dengan yang bersih perlu dilakukan minimal sekali sebulan. Waring dan jaring
yang kotor dijemur sampai kering, kemudian dicuci dengan cara disemprotkan air. Setelah bersih, waring dan
jaring dijemur kembali sampai kering untuk siap digunakan. Namun, sebelum digunakan
kembali waring dan jaring perlu dikontrol keadaannya.
6. Panen
Pemanenan ikan konsumsi
dilakukan secara total dengan cara mengangkat jaring pemeliharaan dengan
menggunakan kayu. Caranya, kayu dilewatkan dari bawah jaring yang kemudian
diangkat sehingga jaring pemeliharaan terbagi menjadi dua. Waktu panen
dilakukan pada pukul 10.00 – 18.00. Sedangkan menurut Akbar S dan Sudaryanto
(2002), panen dilakukan pada suhu rendah yakni pagi atau sore hari. Panen dan
pengangkutan merupakan kegiatan akhir budidaya. Sehingga tidak kalah pentingnya
dibanding kegiatan lain. Kesalahan dan keteledoran dalam pemanenan dan Sebelum
benih dipanen dilakukan pemuasaan selama 1 hari bertujuan untuk menghindarkan
terjadinya buangan sisa-sisa metabolise yang dapat menurunkan kualitas air
selama pengangkutan.
7. Pasca Panen
Dalam
pengangkutan ikan konsumsi, ada dua hal yang harus diperhatikan,yaitu persiapan
dan cara pengangkutan. Persiapan matang terhadap ikan dan bahan pengemassangat
diperlukan untuk memperlancar dan melindungi ikan agar tetap segar hingga tiba
ditempat tujuan. Persiapan terhadap ikan berupa pemuasaan dan pemilahan ukuran.
Pemuasaan bertujuan untuk menghindarkan terjadinya buangan sisa-sisa metabolise
yang dapat menurunkan kualitas air. Lama pemuasaan sekitar 6 – 24 jam,
tergantung ukuran ikan. Semakin besar ukuran ikan maka pemuasaannya semakin
lama. Persiapan bahan pengangkut perlu diperhatikan. Bila bahannya tidak sesuai
maka kesegaran ikan hingga tiba di tempat tujuan akan menurun. Ada dua cara
pengangkuatan dan bahan pengangkutnya juga berbeda. Untuk pengangkutan terbuka
diperlukan bahan pengangkut berupa drum plastik atau fiber glass, aerator, atau
oksigen murni, selang dan batu aerasi. Sementara untuk pengangkutan
tertutup diperlukan kardus, styrofoam.
Plastik, karet, oksigen, dan pita perekat. Selain bahan diatas, bahan lain yang
harus disiapkan adalah air laut dan es.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar