Balai Penelitian dan Pengembangan Budidaya Air Payau (BPPBAP), Badan Litbang KP melakukan uji lapangan probiotik RICA (Research Institute for Coastal Aquaculture) di hamparan tambak udang vannamei pola tradisional plus di kelompok pembudidaya ikan Samaturue desa Wiringtasi kecamatan Suppa Pinrang. Sebelumnya BPPBAP telah sukses melakukan kajian Iptekmas aplikasi probiotik Rica 1, 2 dan 3 pada komoditi udang windu tahun 2012 di lokasi yang sama . Dalam uji lapangan tersebut selain mengaplikasikan probiotik Rica 1,2 dan 3 juga juga diuji probiotik Rica 4 dan 5. Probiotik RICA 1,2 dan 3 merupakan hasil isolat bakteri asal tambak kelompok Bacilllus(Brevibacillus laterosporus), Serratia marcescens dari daun mangrove dan isolat Pseudoalteromonas sp. Edeep-1 yang berasal dari laut. Sedangkan probiotik RICA 4 dan 5 diisolasi dari bakteri bacillus mikro algae dan makro algae rumput laut.
Peneliti BPPBAP Maros, Ir. Muharjadi Atmomarsono, M.Sc mengatakan bakteri probiotik merupakan salah satu cara untuk menanggulangi penyakit pada usaha budidaya udang. Kegagalan panen di pertambakan udang windu di Indonesia sejak dua dekade terakhir terutama disebabkan oleh dua jenis patogen, yaitu Vibrio harveyi (bakteri kunang-kunang) dan WSSV (White Spot Syndrome Virus). Sudah banyak cara yang dilakukan oleh BPPBAP untuk mencegah gagal panen udang tersebut antara lain dengan metode tandon air dan biofilter penanaman mangrove kembali di sepanjang saluran dalam rangka menghasilkan bakterisida alami yang dapat mematikan bakteri V. harveyi ,pemakaian tokolan udang windu dan aplikasi bakteri probiotik di tambak.
Pada ujicoba tambak tradisional plus ini dilakukan penebaran benur vannamei di 14 petak atau seluas 6,9 ha hari Kamis, 27 Pebruari 2014. Dalam ujicoba tersebut ada tiga kelompok petakan tambak pengujian yaitu kelompok I mengaplikasikan secara bergantian probiotik Rica 1,2 dan 3 sampai panen. Kelompok II mengaplikasi probiotik Rica 3,4 dan 5 sampai panen dan kelompok III aplikasikan probiotik Rica 1 secara terus menerus sampai panen. Diakhir kajian disimpulkan dari ketiga kelompok tersebut mana yang paling menguntungkan bagi pembudidaya udang. Selanjutnya tugas penyuluh untuk menyebarluaskan hasil kajian teknologi tersebut kepada pembudidaya yang lainnya.
Pada hari Selasa 3 Juni 2014 dilakukan panen pada petakan tambak seluas 0,70 ha milik ketua kelompok pembudidaya ikan (Pokdakan) Samaturue, P.Parajai dengan hasil panen 400 kg dengan berat rata-rata 70 gram per ekor dari jumlah penebaran benur 42.000 ekor."Sebelumnya kami hanya berhasil memanen 225-270 kg per hektarnya, kini sudah mencapai 400 Kg, " kata P. Parajai. Sedang petak uji milik Ruslan dengan luas petakan sekitar 0,70 ha dengan jumlah tebar 44.000 benur, hasilnya mencapai 1.100 kg. "Perbedaan produksi ini disebabkan oleh perlakuan probiotik dan dosis pakan yang berbeda,” jelas Muharjadi Atmomarsono. Panen perdana hasil kajian BBPBAP tersebut dihadiri oleh kepala Balai, Ir. Andi Parenrengi, Kepala Balai Karantina ikan Makassar, Drs. Widodo dan sejumlah peneliti, penyuluh perikanan dan anggota Pokdakan kecamatan Suppa.
ALAT DAN BAHAN
Bakteri probiotik RICA bisa diperbanyak melalui kultur di lokasi tambak. Bahan-bahan yang diperlukan antara lain bakteri probiotik RICA, yaitu isolate BT951, MY1112 dan BL542 dalam media nutrient broth (100-200 ml/20liter air tambak), tepung ikan 400 gram/20 liter air tambak, dedak halus 1.000 gram/20 liter air tambak, ragi roti (yeast) 100 gram/20 liter air tambak, molase (tetes tebu) 500 gram atau sekitar 375 ml/20 liter air tambak dan air tambak 20 liter. Sedangkan peralatan kultur yang dipersiapkan antara lain aerator double power 1 unit dilengkapi dengan slang aerasi (pengatur gas dan batu aerasi), ember besar tertutup untuk wadah kultur, jarigen steril, corong plastik, gayung, takaran literan, timbangan, spidol permanen, kompor gas, panci stainless volume 50 liter, pengaduk dari kayu, beberapa ember dan stoples.
CARA KULTUR
Cara kulturnya adalah pertama-tama memasak dedak dan tepung ikan dalam 20 liter air tambak hingga mendidih. Matikan api kompor lalu masukkan ragi roti sambil diaduk kemudian masukkan molase terus diaduk agar cepat merata. Dininkan campuran tersebut dengan cara merendam panci ke dalam tambak atau membaginya ke dalam beberapa tempat agar cepat dingin. Setelah dingin air tersebut dibagi kedalam dua ember lalu masukkan bakteri probiotik sebanyak 50-10 ml/ember kemudian diaerasi secara terus-menerus dengan aerator AC/DC. Setelah dikultur selama 4-5 hari konsentrasi bakteri sudah mencapai 10 pangkat sepuluh hingga sepuluh pangkat dua belas CFU/ml. Bakteri probiotik siap digunakan di tambak dengan dosis 0,2-1 ppm atau 2-10 liter/ha dengan kedalama air 1 meter.
CARA APLIKASI DI TAMBAK
Cara aplikasi di tambak adalah bakteri diencerkan lebih dahulu dengan air tambak kemudian ditebar merata ke permukaan air tambak. Pemberian bakteri probiotik dilakukan setiap 5-7 hari untu budidaya udang tradisional plus dan semi intensif, sedangkan untuk sistim intensif diperlukan aplikasi 1-2 kali perminggu atau tergantung kondisi airnya. Bakteri probiotik RICA yang terbaik adalah system pergiliran yaitu BT951 diberikan empat kali sejak minggu ke 2-3 pemeliharaan kemudian diganti dengan MY1112 diberikan 3-4 kali berturut-turut kemudian diganti dengan BL542 diberikan 3-4 kali dan diulang lagi dengan BT951 hingga panen. Informasi lebih lanjut dapat menghubungi peneliti di BPPBAP Maros yaitu Muharijadi Atmomarsono, Alamat: Balai Penelitian dan Pengembangan Budidaya Air Payau, Jalan Makmur Daeng Sittaka 129, Maros, Sulsel 90512, HP 08124263006; Fax (0411) 371545; E-mail: hari_atmo@yahoo.com
Sumber : http://pusluh.kkp.go.id/mfce/html/index.php?id=artikel&kode=105/ Abdul Salam Atjo, Penyuluh perikanan Madya BP4K Pinrang
Tidak ada komentar:
Posting Komentar