Jumat, 16 September 2016

TEKNOLOGI BUDIDAYA UDANG VANNAMEI SUPER INTENSIF


Balai Penelitian dan Pengembangan Budidaya Air Payau (BPPBAP) Maros sejak 2013 melakukan penelitian budidaya udang vannamei teknologi super intensif di Instalasi Tambak Percobaan BPPBAP yang terletak di Desa Punaga, Kecamatan Mangarabombang, Kabupaten Takalar. Disebut teknologi super intensif karena luasan petak tambak  sekitar 1.000 m2, kedalaman air lebih dari 2 meter, padat penebaran tinggi, produktivitas tinggi, beban limbah minimal, dilengkapi dengan tandon dan petak pengolah limbah budidaya. 
Sistem akuakultur ini diharapkan dapat memacu pertumbuhan ekonomi melalui peningkatan produksi udang yang berdaya saing.  Disinilah peran penelitian dan pengembangan untuk mengkaji sistem akuakultur tambak super intensif agar memenuhi prinsip akuakultur berkelanjutan yang selaras dengan program industrialisasi perikanan budidaya berbasis blue economy. Peneliti utama BPPBAP Maros Prof Dr. Ir. Rachman Syah, MS, sejak 2013 mencoba mengkaji kinerja budidaya udang vaname super intensif pada padat penebaran yang berbeda sebagai acuan untuk menentukan padat penebaran optimal udang vaname super intensif pada tambak kecil.  Kinerja yang didapatkan sangat memuaskan dimana selama masa pemeliharaan 105 hari  produksi yang diperoleh pada usaha budidaya udang super intensif  kepadatan 500 ekor/m2 adalah  sebesar : 6.376 kg, sedangkan pada  kepadatan 600 ekor/m2 dihasilkan produksi sebesar 8.407 kg.  Laba operasional dari kegiatan tersebut diperkirakan  sebesar Rp. 234-338 juta per siklus. Menurut Rachman Syah, kinerja ini tentu menjadi prospek cerah bagi dunia usaha akuakultur karena pada tambak ukuran 1000 m2 didapatkan produksi yang besar.  Di sisi lain, potensi dampak akuakultur super intensif yaitu degradasi ekosistem dan penurunan biodiversitas pesisir akibat buangan limbah yang tidak dikelola ke perairan pesisir membawa pengkayaan nutrien, peningkatan bahan organik, sedimentasi. 
Pada tahun 2014, Prof Rachman melanjutkan penelitian dengan mengkaji estimasi beban limbah dan aplikasi pemberian pakan pada budidaya udang vaname super intensif.  Benang merah penelitian 2013 – 2014 ini menitikberatkan pada prinsip akuakultur berkelanjutan dengan pendekatan blue economy, dimana produksi yang tinggi dengan memanfaatkan ruang budidaya yang kecil harus menjamin kelestarian lingkungan hidup khususnya perairan pesisir dan laut.
Panen Parsial
Salah satu bagian penelitian ini yaitu panen parsial.  Panen ini  dilakukan secara parsial yaitu pada pemeliharaan hari ke 70, 90, 105 dan total pada hari ke 120. Panen parsial pertama dilakukan pada tanggal 25 Mei 2014. Tujuan panen parsial ini adalah untuk menyeimbangkan biomass udang dalam pemanfaatan ruang dan komponen abiotik seperti lingkungan perairan (kandungan oksigen).  Total produksi pada panen parsial pertama ini  yaitu sekitar 10 ton udang vaname dari tiga petak dengan kepadatan  750 ekor permeter persegi, 1.000 ekor permeter persegi,  1.250 ekor permeter persegi. Panen parsial kedua dilaksanakan pada tanggal 12 Juni 2014 dan panen terakhir pada tanggal 26 Juni 2014 disaksikan oleh Menteri Kelautan dan Perikanan Sharif C. Sutardjo.
            Berkelanjutan
Seusai menyaksikan panen udang vannamei, Sharif mengatakan bahwa pengembangan tambak dengan teknologi super intensif dengan label Eco Culture Vaname Estate menitikberatkan pada prinsip akuakultur berkelanjutan dengan pendekatan blue economy. Disebutkan, produksi yang tinggi dengan memanfaatkan ruang budidaya yang kecil harus menjamin kelestarian lingkungan hidup khususnya perairan pesisir dan laut bagi keberlanjutan usaha akuakultur yang berdaya saing tinggi. Dalam hal ini, BPPBAP dikatakan telah mengkaji estimasi beban limbah pada budidaya udang vaname super intensif. Hasil penelitian menunjukkan karakteristik air limbah khususnya untuk variabel Fosfat, Bahan Organik Total, Padatan Tersuspensi Total telah melebihi ambang batas standar buangan air limbah budidaya udang. Oleh karena itu, kata dia, sudah menjadi kebutuhan dalam penerapan teknologi super intensif ini adalah Instalasi Pengelolaan Air Limba (IPAL).
Salah satu upaya yang dilakukan adalah pembangunan tandon air limbah yang terdiri dari kolam pengendapan, oksigenasi, biokonversi dan penampungan. "Dengan adanya sistem tandon air limbah ini, maka buangan air limbah akan diolah sehingga kualitasnya berada pada kisaran yang dipersyaratkan," jelas Sharif. Sharif menegaskan, teknologi super intensif dapat dikembangkan dengan prasyarat adanya IPAL yang menjadi satu kesatuan sistem yang holistik meliputi proses pembesaran udang dan proses pengolahan buangan air limbah. Apalagi potensi dampak akuakultur super intensif yaitu degradasi ekosistem dan penurunan biodiversitas pesisir akibat buangan limbah yang tidak dikelola ke perairan pesisir membawa pengkayaan nutrien, peningkatan bahan organik dan sedimentasi. Tentunya sejarah degradasi pantai utara Jawa yang salah satunya disebabkan pembukaan tambak secara masif cukuplah menjadi pembelajaran penting bagi dunia akuakultur. "Hal inilah yang menjadi dasar road map penelitian selanjutnya," tandas Sharif.
Dalam sambutannya Menteri Kelautan dan Perikanan menyampaikan apresiasi kepada penyuluh perikanan yang hadir pada acara panen udang vannamei di Takalar. “Penyuluh perikanan punya peran penting dalam menyebar inovasi teknologi kepada masyarakat,” ungkap Sharif C.Sutardjo. Salah satu hasil inovasi teknologi yang kini mulai dikembangkan oleh Balitbang KP adalah tambak udang vannamei super intensif. Menteri mengakui teknologi tersebut sudah lebih awal diujicoba oleh Dr. Hasanuddin Atjo di kabupaten Barru dan di Sulawesi tengah.
Pada kesempatan yang sama Kepala Balitbang KP, Dr. Ir Achmad Poernomo menyampaikan upaya litbang perikanan budidaya akan terus dikembangkan untuk memberi kontribusi dalam program nasional industrialisasi perikanan berbasis blue economy.  Para peneliti diharapkan mampu terus berinovasi dengan memperkuat azas scientific dalam pemecahan masalah perikanan. Dikatakannya, saat ini Balai Litbang Budidaya Air Payau sebagai unit kerja teknis Badan Litbang KP terus mengembangkan dan memantapkan penelitian sumberdaya budidaya, kesehatan ikan dan lingkungan, kajian teknologi pakan dan nutrisi, bioteknologi dan keteknikan budidaya air payau.  “Jembatan litbang perikanan budidaya dan pemerintah daerah perlu terus dikembangkan agar hasilnya nyata dinikmati masyarakat” tambahnya. 


Sumber : http://pusluh.kkp.go.id/mfce/html/index.php?id=artikel&kode=109 / Abdul Salam Atjo, Penyuluh perikanan Madya BP4K Pinrang

Tidak ada komentar:

Posting Komentar