PENDAHULUAN
1.
Latar Belakang
Pengembangan usaha budidaya udang galah (Macrobrachium rosenbergii
de Man) merupakan usaha perikanan yang cukup prospektif untuk dikembangkan,
karena harga jual yang tinggi serta permintaan pasar yang cukup signifikan
mampu menghadirkan udang ini menjadi andalan komoditas perikanan di masa
mendatang. Udang galah merupakan salah
satu peluang usaha yang dapat dikembangkan mengingat permintaan pasar nasional saat ini yang semakin tinggi.
2.
Penyediaan Sarana dan Prasarana
Kelancaran
dalam kegiatan produksi ditunjang oleh sarana dan prasarana yang ada, subsistem
satu ini merupakan struktur yang paling bawah
dan dasar melakukan bisnis. Sarana budidaya adalah peralatan yang
diperlukan langsung dalam kegiatan
produksi, sedangkan prasarana memiliki pengertian segala sesuatu yang dapat
menunjang kegiatan produksi. Sarana
produksi yang dibutuhkan dalam budidaya udang galah adalah benih, pupuk
kandang, pupuk buatan, kapur, pakan dan obat-obatan. Sedangkan prasarana yang
menunjang untuk kegiatan usaha budidaya yaitu lahan sebagai media hidup dan
peralatan untuk panen serta pengangkutan.
3.
Persiapan Kolam
Persiapan
kolam dalam suatu budidaya adalah salah satu faktor keberhasilan dalam suatu
usaha budidaya ikan termasuk budidaya udang galah. Sebelum penebaran benih dilakukan,
kolam perlu dikeringkan untuk menghilangkan senyawa beracun, mempercepat proses
mineralisasi dari sisa bahan organik serta membasmi hama dan penyakit. Selama
pengeringan dilakukan perbaikan pematang, saluran pemasukan, dan pengeluaran
serta pengolahan tanah dasar kolam. Setelah dilakukan pengeringan lalu proses
selanjutnya adalah pengapuran agar tanah dasar keasamannya dapat dikurangi.
Jumlah kapur yang di berikan kurang lebih 100 gram/m2.
Langkah
selanjutnya setelah pengapuran adalah pemberian pupuk, pupuk yang diberikan
oleh pembudidaya udang galah adalah pupuk
Kandang, Urea dan TSP. Pemupukan ini dilakukan untuk merangsang
pertumbuhan makanan alami, terutama plankton nabati. Penggunaan pupuk kandang
100 gram/m2 Urea 50 gram/m2 sedangkan penggunaan TSP 50
gram/m2. Setelah dilakukan persiapan kolam, dialirkan air setinggi
30 cm. Setelah 3 – 4 hari, air dinaikan
50 – 60 cm. Kemudian kolam diberi pelindung berupa pelepah daun kelapa yang
diletakkan di dasar kolam.
4.
Penebaran Benih
Penebaran
benih udang galah (juvenil) biasanya
dilaksanakan pada pagi hari atau sore
hari dengan aklimatisasi (penyesuaian suhu) sebelumnya kurang lebih selama 15
menit. Aklimatisasi dilakukan dengan cara mengapungkan kantong
plastik yang berisi benur selama kurang lebih 15 menit agar suhu air di wadah
kantong plastik dan di kolam menjadi sama. Setelah itu kantong plastik dibuka
dalam kolam pembesaran. Penyesuaian suhu
dilakukan untuk menghindari stres akibat perbedaan suhu air media, akibat
proses pengangkutan dengan air kolam. Padat tebar udang galah yang optimal
adalah 10-15 ekor/m2 untuk pembesaran, dan 25-50 ekor/m2
untuk pentokolan.
5.
Pemberian Pakan
Pakan yang
diberikan untuk udang galah berupa pakan buatan (pelet). Pada umumnya pemberian
pakan dilakukan dalam tiga kali sehari yaitu pagi, siang, dan sore hari. Pakan sebaiknya diberikan
berkisar antara 15-30 % setiap harinya untuk pentokolan dan 8-10 % dari berat
biomas untuk pembesaran. Pembudidaya udang galah melakukan pemberian pakan
tidak menggunakan dosis tetapi hanya perkiraan saja. Udang galah mempunyai
sifat yang kurang agresif dalam hal menyergap makanan, oleh karena itu makanan
yang diberikan harus tenggelam dalam air, tidak membusuk dalam waktu 10 jam,
berbentuk remah (crumble) yang tidak mudah hancur dalam air, dan
berprotein tinggi.
6.
Pemanenan
Udang Vannamei dapat dipanen setelah berumur 100 – 120
hari. Sistem pemanenan yang dilakukan pembudidaya umumnya dilakukan panen total
pada malam atau pagi hari. Teknik
pemanenan dilakukan dengan mengeluarkan air di dalam tambak dengan mencabut
pipa pengatur ketinggian air atau membuka pintu air, yang sebelumnya telah
dipasang jaring panen, sehingga bila pintu air dibuka udang-udang dapat
terkumpul di dalam jaring. Sisa udang
yang tidak tertangkap dalam petakan tambak diambil secara manual
(pemungutan). Hasil panen ditampung
dalam wadah penampungan (drum atau blong) untuk diangkut ke tempat penampungan
udang.
7.
Pasca Panen
Penanganan (handling) hasil udang galah setelah
panen harus diusahakan agar udang selalu dalam keadaan segar karena tingkat
keberhasilan pasca panen akan mempengaruhi nilai jual. Hasil panen pembudidaya udang galah di
Kecamatan Cisolok rata-rata baru mencapai 26% dari padat tebar. Menurut BBAT (2000), hasil panen yang
baik/optimal adalah 50-60% dari padat tebar.
8.
Pemasaran
Subsistem Pemasaran Mencakup pemasaran hasil-hasil
usahatani untuk pasar domestik maupun ekspor.
Ketersediaan pasar sangat penting untuk kelangsungan produksi, apabila
proses produksi telah berjalan maka keberhasilan kegiatan agribisnis udang
galah ditentukan oleh kemampuannya untuk menganalisa dan mengantisipasi pasar.
Beberapa yang perlu diperhatikan sebelum melangkah ke aspek pasar antara lain :
sasaran pasar, strategi dan persaingan
dan persaingan pasar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar