PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Memasuki
era globalisasi, perdagangan produk perikanan budidaya akan berkembang pesat
dengan kompetisi yang semakin ketat.
Berkenaan dengan hal ini, pengembangan perikanan budidaya dihadapkan
pada tuntutan untuk mampu mengembangkan sistem usaha budidaya yang berdaya
saing, berkelanjutan dan berkeadilan guna menyikapi perubahan yang terus
berjalan. Disamping itu, pengembangan
ini juga harus mampu mendorong masyarakat perikanan untuk meningkatkan jiwa
wirausaha (enterpreneurship) dan
menerapkan teknologi budidaya yang berwawasan lingkungan. Produksi udang dalam beberapa tahun terakhir
telah menunjukkan laju pertumbuhan yang positif. Selain peningkatan volume produksi, industri
udang juga diwarnai oleh pergeseran sistem produksi dari usaha penangkapan ke
usaha budidaya khususnya di tambak.
Udang Vannamei mempunyai nama umum pacific
white shrimp, camaron blanco, dan langostino. Sedangkan peristilahan dalam F.A.O yaitu whiteleg shrimp (Inggris), crevette pattes blances (Perancis), dan
camaron patiblanco (Spanyol).
Udang
Vannamei berwarna putih bening sehingga sering disebut udang putih. Bentuk tubuh bercorak kebiru-biruan dari
kromatofor yang berwarna biru dan terpusat diantara batas uropoda dan
telson.
1. Sarana
Produksi
Salah
satu kunci keberhasilan dari suatu usaha adalah tersedianya sarana dan
prasarana yang tepat waktu, tepat mutu, dan tepat jumlah. Ketersediaan sarana dan prasarana produksi
mempengaruhi harga dari suatu hasil produksi.
Disamping itu, ketersediaan komponen aksesibilitas seperti keadaan
jalan, kelancaran sarana transportasi, dan adanya alat informasi yang cukup
sangat mempengaruhi kemajuan kegiatan usaha (Downey dan Erickson, 1992). Beberapa sarana yang umumnya diperlukan dalam
budidaya Vannamei antara lain petakan tambak, benur, pakan, pupuk, kapur,
bakteri probiotik, peralatan-peralatan (berupa kincir air, jaring, dan
peralatan lainnya), dan mesin terutama pompa air.
2. Persiapan Tambak
Persiapan
tambak merupakan langkah awal yang mutlak dilakukan pada kegiatan budidaya
Udang Vannamei sehingga proses pemeliharaan dan produktivitasnya dapat berjalan
optimal. Langkah-langkah persiapan
adalah ; a) pembersihan lumpur dan organisme pengganggu, pencucian dasar
tambak, pengeringan dasar tambak, perbaikan pematang, pengapuran I, pembalikan
tanah dasar dan perataan dasar tambak, pengapuran II dan pemupukan, pengisian
air dan penumbuhan plankton, dan persiapan tebar.
Beberapa tahapan dan proses persiapan tambak adalah
sebagai berikut :
a. Pemberantasan
Hama yaitu pemberantasan hama ikan liar digunakan bahan yang mudah terdegradasi
dan tidak merusak lingkungan, misalnya saponin sebanyak 10 ppm, atau digunakan
kaporit dengan dosis 30 ppm, atau dapat pula digunakan Brestan 60 EC. apabila
di dasar tambak banyak terdapat hama trisipan sebagai bahan pemberantas yang
cukup efektif namun sangat berbahaya karena residu yang ditinggalkan akan
terakumulasi di dasar tambak dan berdampak terhadap kerusakan lingkungan.
b.
Pengeringan,
Pengapuran, Pengolahan Tanah Dasar dan Penataan Dasar Tambak.
Tahap dan proses penyiapan
tanah dasar adalah sebagai berikut ; a)
Pengeringan dasar tambak dengan kondisi lembab (tidak terlalu kering) ;
b) Pengangkatan tanah rusak (limbah padat/organik) ; c)
Pengontrolan bocoran (rembesan) pada seluruh pematang tambak ; d)
Perbaikan pematang secara menyeluruh ; e) Penataan tanah dasar ; f) Pengolahan tanah dasar ; dan g) Pengapuran.
B. Penebaran
Benur
Penebaran
benur umumnya dilakukan pembudidaya pada pagi hari. Kepadatan benur yang ditebar antara 100 - 120
ekor/m2, sedangkan untuk semi intensif kepadatan benur antara 40 –
50 ekor/m2. Jenis benur yang
ditebar dibedakan menjadi benur lokal dan benur F1 (benur keturunan pertama),
dengan ukuran benur PL 10 (10 hari semenjak Post Larva). Menurut Adiwidjaya et al (2004), padat penebaran (density) yang optimal pada
pembesaran udang Litopenaeus vannamei dengan teknologi intensif berkisar antara
50 – 100 ekor/m2 dan super intensif dengan kepadatan 150 – 300
ekor/m2.
C. Pemeliharaan
Pemeliharaan
pada pembesaran Udang Vannamei dilakukan selama 100 – 120 hari tergantung pada
pencapaian size yang diinginkan. Pada
pembesaran Udang Vannamei ini, pembudidaya mengklaim proses budidaya yang
diterapkannya ramah lingkungan karena dalam proses budidayanya tidak
menggunakan antibiotik atau bahan kimia tertentu. Selama
pemeliharaan udang diberi pakan buatan dengan kandungan protein sekitar 30 %,
dengan jenis dan ukuran pakan bervariasi tergantung pada umur dan ukuran udang
yang dipelihara. Frekuensi pemberian
pakan pada masa pemeliharaan masa awal pemeliharaan sebanyak 2 – 3 kali sehari,
karena masih mengandalkan pakan alami. Frekuensi
pemberian dapat ditambah menjadi 4 – 6 kali sehari dengan interval waktu 4 jam
per pemberian pakan. Pemberian pakan
dilakukan dengan cara ditebar secara merata ke dalam tambak, dengan setiap kali
pemberian pakan 2 – 4 % dari jumlah pakan yang tebar dimasukkan ke dalam
anco.
Untuk
mengetahui pertumbuhan udang dan menduga populasi udang di dalam petakan tambak
dilakukan pengambilan contoh (sampling) terhadap udang yang dipelihara. Sampling dilakukan setelah udang berumur 60
hari dan dilakukan secara berkala 7 – 10 hari.
Udang yang terkumpul dihitung beratnya sehingga diketahui biomassa udang
dan jumlah pakan yang harus diberikan.
Pergantian air ini dilakukan setelah Udang Vannamei dipelihara lebih
dari 40 hari. Ketinggian air tambak
umumnya 100 – 120 cm. Sebagai catatan
sistem pengairan yang umumnya dilakukan adalah sistem terbuka (open water system) dimana air yang
dimasukkan ke dalam tambak langsung berasal dari muara tanpa adanya perlakuan
terlebih dahulu, begitu pula dengan pembuangan air. Beberapa pembudidaya yang
menerapkan teknologi intensif, sistem pengairan yang dilakukan adalah sistem
semi tertutup (semi close water system),
dimana air yang masuk ke dalam petakan tambak terlebih dahulu ditreatment dalam
tandon, namun pembuangan air langsung pada saluran utama (muara). Pembudidaya,
baik yang menerapkan teknologi intensif maupun semi intensif, umumnya tidak
melakukan perlakuan terhadap buangan air tambak, sehingga limbah tersebut
berpotensi menimbulkan pencemaran pada sumber air.
Manfaat
penambahan bakteri probiotik pada tambak ini adalah untuk menstabilkan kualitas
perairan dalam tambak dimana bakteri ini menguraikan sisa-sisa bahan organik
yang terakumulasi selama masa pemeliharaan. Kegiatan yang tidak kalah
pentingnya selama masa pemeliharaan udang adalah pengamatan kualitas air dan
kesehatan udang. Indikator kesehatan
udang ini adalah normalnya fungsi fisiologis yang secara fisik dapat terlihat
dari nafsu makan, pertumbuhan, kelengkapan organ dan jaringan tubuh. Adapun kontrol terhadap kualitas air umumnya
jarang dilakukan oleh pembudidaya karena keterbatasan sarana yang dimiliki.
D. Pemanenan
Udang Vannamei dapat dipanen setelah berumur 100 – 120
hari. Sistem pemanenan yang dilakukan pembudidaya umumnya dilakukan panen total
pada malam atau pagi hari. Teknik
pemanenan dilakukan dengan mengeluarkan air di dalam tambak dengan mencabut
pipa pengatur ketinggian air atau membuka pintu air, yang sebelumnya telah
dipasang jaring panen, sehingga bila pintu air dibuka udang-udang dapat
terkumpul di dalam jaring. Sisa udang
yang tidak tertangkap dalam petakan tambak diambil secara manual (pemungutan). Hasil panen ditampung dalam wadah penampungan
(drum atau blong) untuk diangkut ke tempat penampungan udang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar