Senin, 16 Juni 2014

PEMBESARAN UDANG VANAMEI

PENDAHULUAN

A.   Latar Belakang
Memasuki era globalisasi, perdagangan produk perikanan budidaya akan berkembang pesat dengan kompetisi yang semakin ketat.  Berkenaan dengan hal ini, pengembangan perikanan budidaya dihadapkan pada tuntutan untuk mampu mengembangkan sistem usaha budidaya yang berdaya saing, berkelanjutan dan berkeadilan guna menyikapi perubahan yang terus berjalan.  Disamping itu, pengembangan ini juga harus mampu mendorong masyarakat perikanan untuk meningkatkan jiwa wirausaha (enterpreneurship) dan menerapkan teknologi budidaya yang berwawasan lingkungan.  Produksi udang dalam beberapa tahun terakhir telah menunjukkan laju pertumbuhan yang positif.  Selain peningkatan volume produksi, industri udang juga diwarnai oleh pergeseran sistem produksi dari usaha penangkapan ke usaha budidaya khususnya di tambak.  Udang Vannamei mempunyai nama umum pacific white shrimp, camaron blanco, dan langostino.  Sedangkan peristilahan dalam F.A.O yaitu whiteleg shrimp (Inggris), crevette pattes blances (Perancis), dan camaron patiblanco (Spanyol).
Udang Vannamei berwarna putih bening sehingga sering disebut udang putih.  Bentuk tubuh bercorak kebiru-biruan dari kromatofor yang berwarna biru dan terpusat diantara batas uropoda dan telson.  

1.    Sarana Produksi
Salah satu kunci keberhasilan dari suatu usaha adalah tersedianya sarana dan prasarana yang tepat waktu, tepat mutu, dan tepat jumlah.  Ketersediaan sarana dan prasarana produksi mempengaruhi harga dari suatu hasil produksi.  Disamping itu, ketersediaan komponen aksesibilitas seperti keadaan jalan, kelancaran sarana transportasi, dan adanya alat informasi yang cukup sangat mempengaruhi kemajuan kegiatan usaha (Downey dan Erickson, 1992).  Beberapa sarana yang umumnya diperlukan dalam budidaya Vannamei antara lain petakan tambak, benur, pakan, pupuk, kapur, bakteri probiotik, peralatan-peralatan (berupa kincir air, jaring, dan peralatan lainnya), dan mesin terutama pompa air.  

2.    Persiapan Tambak
Persiapan tambak merupakan langkah awal yang mutlak dilakukan pada kegiatan budidaya Udang Vannamei sehingga proses pemeliharaan dan produktivitasnya dapat berjalan optimal.  Langkah-langkah persiapan adalah ; a) pembersihan lumpur dan organisme pengganggu, pencucian dasar tambak, pengeringan dasar tambak, perbaikan pematang, pengapuran I, pembalikan tanah dasar dan perataan dasar tambak, pengapuran II dan pemupukan, pengisian air dan penumbuhan plankton, dan persiapan tebar. 
Beberapa tahapan dan proses persiapan tambak adalah sebagai berikut :
a. Pemberantasan Hama yaitu pemberantasan hama ikan liar digunakan bahan yang mudah terdegradasi dan tidak merusak lingkungan, misalnya saponin sebanyak 10 ppm, atau digunakan kaporit dengan dosis 30 ppm, atau dapat pula digunakan Brestan 60 EC. apabila di dasar tambak banyak terdapat hama trisipan sebagai bahan pemberantas yang cukup efektif namun sangat berbahaya karena residu yang ditinggalkan akan terakumulasi di dasar tambak dan berdampak terhadap kerusakan lingkungan. 
b.   Pengeringan, Pengapuran, Pengolahan Tanah Dasar dan Penataan Dasar Tambak.
Tahap dan proses penyiapan tanah dasar adalah sebagai berikut ; a)  Pengeringan dasar tambak dengan kondisi lembab (tidak terlalu kering) ; b) Pengangkatan tanah rusak (limbah padat/organik) ;  c)  Pengontrolan bocoran (rembesan) pada seluruh pematang tambak ;    d)  Perbaikan pematang secara menyeluruh ; e)  Penataan tanah dasar ; f)  Pengolahan tanah dasar ; dan g)  Pengapuran.
  
B.     Penebaran Benur
Penebaran benur umumnya dilakukan pembudidaya pada pagi hari.  Kepadatan benur yang ditebar antara 100 - 120 ekor/m2, sedangkan untuk semi intensif kepadatan benur antara 40 – 50 ekor/m2.  Jenis benur yang ditebar dibedakan menjadi benur lokal dan benur F1 (benur keturunan pertama), dengan ukuran benur PL 10 (10 hari semenjak Post Larva).  Menurut Adiwidjaya et al (2004), padat penebaran (density) yang optimal pada pembesaran udang Litopenaeus vannamei dengan teknologi intensif berkisar antara 50 – 100 ekor/m2 dan super intensif dengan kepadatan 150 – 300 ekor/m2

C.     Pemeliharaan
Pemeliharaan pada pembesaran Udang Vannamei dilakukan selama 100 – 120 hari tergantung pada pencapaian size yang diinginkan.  Pada pembesaran Udang Vannamei ini, pembudidaya mengklaim proses budidaya yang diterapkannya ramah lingkungan karena dalam proses budidayanya tidak menggunakan antibiotik atau bahan kimia tertentu.   Selama pemeliharaan udang diberi pakan buatan dengan kandungan protein sekitar 30 %, dengan jenis dan ukuran pakan bervariasi tergantung pada umur dan ukuran udang yang dipelihara.  Frekuensi pemberian pakan pada masa pemeliharaan masa awal pemeliharaan sebanyak 2 – 3 kali sehari, karena masih mengandalkan pakan alami.  Frekuensi pemberian dapat ditambah menjadi 4 – 6 kali sehari dengan interval waktu 4 jam per pemberian pakan.  Pemberian pakan dilakukan dengan cara ditebar secara merata ke dalam tambak, dengan setiap kali pemberian pakan 2 – 4 % dari jumlah pakan yang tebar dimasukkan ke dalam anco. 
Untuk mengetahui pertumbuhan udang dan menduga populasi udang di dalam petakan tambak dilakukan pengambilan contoh (sampling) terhadap udang yang dipelihara.  Sampling dilakukan setelah udang berumur 60 hari dan dilakukan secara berkala 7 – 10 hari.  Udang yang terkumpul dihitung beratnya sehingga diketahui biomassa udang dan jumlah pakan yang harus diberikan.  Pergantian air ini dilakukan setelah Udang Vannamei dipelihara lebih dari 40 hari.  Ketinggian air tambak umumnya 100 – 120 cm.  Sebagai catatan sistem pengairan yang umumnya dilakukan adalah sistem terbuka (open water system) dimana air yang dimasukkan ke dalam tambak langsung berasal dari muara tanpa adanya perlakuan terlebih dahulu, begitu pula dengan pembuangan air. Beberapa pembudidaya yang menerapkan teknologi intensif, sistem pengairan yang dilakukan adalah sistem semi tertutup (semi close water system), dimana air yang masuk ke dalam petakan tambak terlebih dahulu ditreatment dalam tandon, namun pembuangan air langsung pada saluran utama (muara). Pembudidaya, baik yang menerapkan teknologi intensif maupun semi intensif, umumnya tidak melakukan perlakuan terhadap buangan air tambak, sehingga limbah tersebut berpotensi menimbulkan pencemaran pada sumber air.
Manfaat penambahan bakteri probiotik pada tambak ini adalah untuk menstabilkan kualitas perairan dalam tambak dimana bakteri ini menguraikan sisa-sisa bahan organik yang terakumulasi selama masa pemeliharaan. Kegiatan yang tidak kalah pentingnya selama masa pemeliharaan udang adalah pengamatan kualitas air dan kesehatan udang.  Indikator kesehatan udang ini adalah normalnya fungsi fisiologis yang secara fisik dapat terlihat dari nafsu makan, pertumbuhan, kelengkapan organ dan jaringan tubuh.  Adapun kontrol terhadap kualitas air umumnya jarang dilakukan oleh pembudidaya karena keterbatasan sarana yang dimiliki.    
 
D.     Pemanenan
Udang Vannamei dapat dipanen setelah berumur 100 – 120 hari. Sistem pemanenan yang dilakukan pembudidaya umumnya dilakukan panen total pada malam atau pagi hari.  Teknik pemanenan dilakukan dengan mengeluarkan air di dalam tambak dengan mencabut pipa pengatur ketinggian air atau membuka pintu air, yang sebelumnya telah dipasang jaring panen, sehingga bila pintu air dibuka udang-udang dapat terkumpul di dalam jaring.  Sisa udang yang tidak tertangkap dalam petakan tambak diambil secara manual (pemungutan).  Hasil panen ditampung dalam wadah penampungan (drum atau blong) untuk diangkut ke tempat penampungan udang. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar