Syarat utama dalam mengolah ikan adalah tersedianya bahan baku yang
bermutu tinggi. Karena bahan baku yang bermutu rendah tidak akan dapat
menghasilkan produk yang bermutu tinggi. Tidak ada satu cara apapun yang
dapat mengubah bahan baku yang bermutu rendah menjadi produk bermutu
tinggi. Terlebih lagi bahwa ikan merupakan bahan pangan yang mudah rusak
(Highly perishable). Ikan segar adalah ikan yang masih mempunyai sifat
sama seperti hidup, baik rupa, bau, rasa maupun teksturnya. Dengan kata
lain, ikan segar adalah seperti berikut : 1. Ikan yang baru saja
ditangkap dan belum mengalami proses pengawetan maupun pengolahan lebih
lanjut 2. Ikan yang belum mengalami perubahan fisik maupun kimiawi atau
yang masih mempunyai sifat sama seperti ketika ditangkap Kesegaran ikan
dinilai berdasarkan sejauh mana ikan tersebut masih segar dan
sebaliknya. Perbedaan terletak pada proses yang terjadi. Tingkat
kesegaran berkaitan dengan proses enzimatis yang terjadi dalam tubuh
ikan, sedangkan kebusukan berkaitan dengan proses bacterial. Kualitas
bahan dasar sangat menentukan hasil akhir pengolahan. Jika kualitas
bahan dasarnya rendah, produk yang dihasilkan dalam pengolahan mempunyai
mutu yang kurang baik. Sebaliknya jika bahan dasarnya berkualitas baik,
maka produk yang dihasilkan juga akan bermutu tinggi (jika
pengolahannya berjalan normal). Baik dan tidaknya kualitas bahan dasar
dipengaruhi oleh 2 (dua) faktor, yaitu faktor intrinsik dan faktor
ekstrinsik. – Faktor Intrinsik Adalah sifat-sifat yang dipengaruhi oleh
gen (pembawa sifat), umur, jenis kelamin, jenis (species). Faktor
Intrinsik sukar dikendalikan, karena faktor-faktor ini melekat pada
bahan – Faktor Ekstrinsik Adalah perlakuan-perlakuan yang dikerjakan
oleh manusia terhadap bahan, misalnya cara-cara penangkapan ikan,
pengapalan, pendaratan, pengesan, penyiangan, pencucian, pendinginan,
pembekuan dsb. Faktor Ekstrinsik dapat diatur, karena yang melakukan
adalah manusia. Semua perlakuan terhadap bahan sebelum dilakukan
pengolahan, merupakan faktor ekstrinsik Penanganan ikan setelah
penangkapan memegang peranan penting untuk memperoleh nilai jual ikan
yang maksimal. Sejak hasil perikanan ditangkap, akan mengalami
serangkaian perlakuan sampai diolah menjadi berbagai macam produk.
Secara umum penanganan pasca tangkap hasil perikanan, bertujuan
menyediakan dan mempertahankan tingkat kesegaran ikan. Sifat kesegaran
ikan dapat dipertahankan dengan menurunkan suhu tubuh ikan dan
lingkungannya. Namun dewasa ini tingkat kesegaran ikan dapat
dimanipulasi dengan menggunakan bahan tambahan pangan yang berfungsi
untuk mengawetkan kesegaran ikan.
Penggunaan bahan tambahan pangan dalam produk-produk makanan, dimaksudkan untuk :
– Mengawetkan produk makanan
– Memberikan warna, agar produk makanan lebih menarik
– Menghemat biaya produksi
– Meningkatkan cita rasa
– Memperbaiki tekstur produk makanan.
Bahan pengawet makanan adalah bahan yang ditambahkan pada makanan
untuk mencegah atau menghambat menjadi rusak atau busuknya makanan.
Maksud dan tujuan dari pada penggunaan bahan pengawet makanan adalah
untuk memelihara kesegaran dan mencegah kerusakan makanan atau bahan
makanan. Beberapa pengawet yang termasuk antioksidan berfungsi mencegah
makanan menjadi tengik yang disebabkan oleh perubahan kimiawi dalam
makanan tersebut.
Pengawet yang diizinkan (Permenkes No.722/1988) adalah : Asam
Benzoat, Asam Propionat. Asam Sorbat, Belerang Dioksida, Etil p-Hidroksi
Benzoat, Kalium Benzoat, Kalium Bisulfit, Kalium Meta Bisulfit, Kalkum
Nitrat, Kalium Nitril, Kalium Propionat, Kalium Sorbat, Kalium Sulfit,
Kalsium Benzoit, Kalsium Propionat, Kalsium Sorbat, Natrium Benzoat,
Metil-p-hidroksi Benzoit, Natrium Bisulfit, Natrium Metabisulfit,
Natrium Nitrat, Natrium Nitrit, Natrium Propionat, Natrium Sulfit, Nisin
dan Propil-p-hidroksi-benzoit.
Bahaya penggunaan zat pengawet yang tidak diizinkan, sebagai contoh
penggunaan formalin yang sering digunakan untuk mengawetkan tahu dan mie
basah dapat menyebabkan : kanker paru-paru, gangguan pada jantung,
gangguan pada alat pencernaan, gangguan pada ginjal dll. Pengertian
Formalin Formalin adalah larutan yang tidak berwarna dan baunya sangat
menusuk. Formalin dikenal sebagai bahan pembunuh hama (desinfektan) dan
banyak digunakan dalam industri. Karena pembunuh kuman sehingga
dimanfaatkan untuk pembersih : lantai, kapal, gudang dan pakaian,
Pembasmi lalat dan berbagai serangga lain, bahan pembuatan sutra buatan,
zat pewarna, cermin kaca dan bahan peledak.
• Pengawet mayat
• Pembasmi lalat dan serangga pengganggu lainnya.
• Bahan pembuatan sutra sintetis, zat pewarna, cermin, kaca
• Pengeras lapisan gelatin dan kertas dalam dunia Fotografi.
• Bahan pembuatan pupuk dalam bentuk urea.
• Bahan untuk pembuatan produk parfum.
• Bahan pengawet produk kosmetika dan pengeras kuku.
• Pencegah korosi untuk sumur minyak
• Dalam konsentrasi yang sangat kecil (kurang dari 1%), Formalin
digunakan sebagai pengawet untuk berbagai barang konsumen seperti
pembersih barang rumah tangga, cairan pencuci piring, pelembut kulit,
perawatan sepatu, shampoo mobil, lilin, dan pembersih karpet.
Penggunaan Formalin yang salah Beberapa contoh prduk yang sering diketahui mengandung formalin misalnya –
1. Mie Basah – Pada suhu kamar (250 C), Mie basah tidak mengalami
kerusakan sampai 2 hari – Pada suhu lemari es (100 C), Mie basah akan
bertahan sampai lebih dari 15 hari – Aroma agak menyengat (bau formalin)
– Tampilan Mie lebih mengkilap dibanding mie normal – Tidak lengket
2. Tahu – Pada suhu kamar (250 C) Tahu berformalin tidak mengalami
kerusakan sampai 3 hari – Pada suhu lemari es (100 C) Tahu berformalin
akan bertahan sampai lebih dari 15 hari – Aroma agak menyengat (bau
formalin) – Tampilan Tahu berformalin lebih keras, namun tidak padat.
3. Bakso – Pada suhu kamar (250 C) Baso berformalin tidak mengalami kerusakan sampai 5 hari – Tekstur baso sangat kenyal
4. Ikan segar – Pada suhu kamar (250 C) ikan berformalin tidak
mengalami kerusakan sampai 3 hari – Warna insang pucat kusam agak
keputihan (tidak cemerlang) – Aroma agak menyengat (bau formalin) –
Warna daging ikan putih bersih, tekstur kenyal & bau asam
5. Ikan asin – Pada suhu kamar (250 C) Ikan asin berformalin tidak
mengalami kerusakan sampai lebih dari 1 bulan – Warna bersih dan cerah –
Tidak berbau khas ikan asin & tidak mudah hancur – Tidak dihinggapi
lalat bila ditaruh ditempat terbuka Makanan yang mengandung formalin
umumnya awet dan dapat bertahan lebih lama.
Formalin dapat dikenali dari bau yang agak menyengat dan
kadang-kadang menimbulkan pedih pada mata. Bahan makanan yang mengandung
formalin ketika sedang dimasak kadang-kadang masih mengeluarkan bau
khas formalin yang menusuk. lIkan dan ayam yang mengandung formalin akan
lebih putih dagingnya dan awet Ciri-ciri produk pangan perikanan yang
mengandung formalin. Kadar formalin pada produk perikanan di pasar
swalayan modern :
1. Ekor Kuning segar 0,4 ppm2. Bawal Hitam segar 1,0 ppm
3. Teri Spesial asin 0,6 ppm Kadar formalin
pada produk perikanan di pasar tradisonal :
1. Kerang Kupas segar 0,4 ppm
2. Ikan petek asin 0,6 ppm
3. Ikan Layang asin 1,5 ppm 1. Ikan Sepat asin 0,6 ppm 2. Ikan layur asin 0,6 ppm 3. Teri Nasi asin 630 ppm
4. Cumi asin 12 ppm
5. Ikan Kapasan 6 ppm
6. Ikan kembung Peda 0,6 ppm
Bahaya formalin pada kesehatan : Dalam jangka pendek (akut), bila
tertelan formalin maka mulut, tenggorokan dan perut terasa terbakar,
sakit menekan, mual, muntah dan diare, dapat terjadi pendarahan, sakit
perut hebat, sakit kepala, hipotensi, (tekanan darah rendah), kejang,
tidak sadar hingga koma. Disamping itu formalin juga menyebabkan
kerusakan jantung, hati, otak, limpa, pankreas, sistem saraf pusat dan
ginjal. Jangka panjang (kronik), mengkonsumsi bahan makanan yang
mengandung formalin, efek sampingnya tampak setelah jangka panjang,
karena terjadi akumulasi formalin dalam tubuh. Timbul iritasi pada
saluran pernafasan, muntah, sakit kepala, rasa terbakar pada
tenggorokan, dan rasa gatal di dada. Pada hewan percobaan dapat
menyebabkan kanker sedangkan pada manusia diduga bersifat karsinogen
(menyebabkan kanker). Tanda dan gejala keracunan formalin Menyebabkan
rasa terbakar pada mulut, saluran pernafasan dan perut, sulit menelan,
diare, sakit perut, hipertensi, kejang dan koma. Kerusakan hati,
jantung, otak, limpa, pankreas, sistem susunan saraf pusat dan gangguan
ginjal. Berdasarkan temuan patologis, formaldehid merusak jaringan dan
menyusutkan selaput lendir, juga merusak hati, ginjal, jantung dan otak.
1. Gunakan bahan baku yang baik.
2. Bersihkan semua alat sebelum digunakan.
3. Cuci tangan sebelum dan sesudah bekerja.
4. Masaklah pangan secara seksama dan sempurna untuk membunuh mikroorganisme yang ada di dalamnya.
5. Simpanlah pangan di tempat yang sesuai. Selain dengan cara seperti
di atas, untuk menghindari/mencegah serta menghambat pertumbuhan
bakteri dalam pangan agar lebih tahan lama dilakukan proses pengawetan
pada pangan/makanan. Selain menentukan bahan baku yang baik dengan
mengetahui mutu ikan secara organoleptik, maka Sanitasi dan Higienis
atau kebersihan dan kesehatan, merupakan masalah yang dalam suatu
pengolahan ikan. Perhatian terhadap masalah tersebut tidak dapat ditunda
atau ditawar lagi, terutama jika kita menginginkan produk yang
diinginkan bermutu tinggi.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam usaha pengolahan ikan :
1. Semua permukaan peralatan yang berhubungan langsung dengan semua
bahan dan produk harus mudah diperikasa dan dibersihkan untuk mengurangi
kemungkinan kontaminasii bakteri.
2. Membiasakan diri mencuci peralatan sebelum dan sesudah digunakan
serta membersihkan peralatan dan lantai setiap kali proses terhenti,
baik karena istirahat atau proses selesai.
3. Membiasakan diri untuk selalu membersihkan diri, mencuci tangan setiap kali hendak memegang ikan atau produk lain.
4. Selalu mengunakan pakaian kerja yang bersih, tanpa perhiasan atau asesoris lain dan menggunakan penutup kepala.
- Modul memilih bahan baku ikan untuk pengolahan, Kementrian Kelautan dan Perikanan
- Karyono dan Wachid, 1982. Petunjuk Praktek Penanganan Pengolahan Ikan. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta.
- Rabiatul Adawyah, M.P, 2006; Pengolahan dan Pengawetan Ikan, Bumi Aksara, Jakarta
- Balai Besar Pengembangan dan Pengendalian Hasil Perikanan, 2009. Patin dan Produk Olahannya, Jakarta.
- Anonymous, 2013; Kumpulan Hasil Penerapan Inovasi Teknologi, Alat dan Mesin, Desain Layout, Ruang Lingkup Pengujian dan Monitoring Hasil Perikanan, Balai Besar Pengembangan dan Pengendalian Hasil Perikanan, Direktorat Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan, Kementerian Kelautan dan Perikanan.
- http://bp3ambon-kkp.org/2014/08/05/formalin-bahan-pengawet-berbahaya/.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar