PENDAHULUAN
Penangkapan gurita yang umum dilakukan di Indonesia
biasanya hanya dilakukan dengan cara menggunakan tombak, yang dilakukan dengan
cara sambil menyelam. Alat tangkap yang secara khusus digunakan untuk menangkap
gurita boleh dikatakan masih belum ada. Sebagai gambaran, di bawah ini
dijelaskan mengenai konstruksi, metode operasi musim penangkapan dan daerah
penangkapan dengan menggunakan Bubu Gurita, yang dapat dijadikan sebagai acuan
sebelum melakukan usaha penangkapan dengan bubu gurita.
Konstruksi
Untuk bubu keramik, lebar mulut
(pintu masuk) 15-25 cm, tinggi 30-40 cm, diameter bawah 15-20 cm dan berat
antara 1-1.5 kg. Untuk bubu yang memakai cangkang kerang, dapat memakai
cangkang kerang dari jenis Scaparca Subcrenata, Rapana thomasiana yang
ukuran panjangnya antara 15-20 cm atau jenis cangkang kerang lain dengan ukuran
yang hampir sama. Tali pelampung, tali pemberat dan
tali utama memakai tali berdiameter 15 mm sedangkan tali cabang berdiameter 10
mm. Jarak antara satu bubu dan bubu lainnya antara 8-12 m, panjang tali utama disesuaikan
dengan banyak sedikitnya jumlah bubu yang digunakan, sedangkan untuk tali
pelampung disesuaikan dengan kedalaman.
Metode operasi
Metode pengoperasian dari bubu
gurita pada prinsipnya hampir sama dengan pengoperasian bubu lainnya hanya saja
dalam pengoperasian bubu tidak memakai umpan. Lama perendaman tergantung
nelayan yang mengoperasikannya sesuai dengan pengalaman tapi umumnya antara 2-3
hari. Pemasangan dan pengangkatan bubu dilakukan setiap hari di pagi hari.
Pemasangan bubu di daerah
penangkapan dipasang satu demi satu kemudian diuntai dengan jarak satu dengan
lainnya antara 6-10 m. Dalam satu set bubu biasanya dipasang antara 20-30 buah bubu atau tergantung dari
kapasitas perahu, bubu yang tersedia dan kemampuan nelayan yang
mengoperasikannya.
Alat bantu penangkapan
Alat bantu penangkapan dapat memakai
gardan yang dibuat dari bambu, kayu atau besi.
Jenis hasil tangkapan
Jenis gurita seperti Ocellated
octopus, Octopus ocelatus, Octopus vulgaris dan jenis Octopus dofleini.
Perahu dan nelayan
Pengoperasian bubu dapat dilakukan
dengan mernpergunakan perahu tanpa motor atau perahu motor tempel dengan jumlah
nelayan berkisar antara 1-2 orang.
Umpan
Dalam pengoperasian bubu gurita
tidak memakai umpan.
Musim penangkapan
Musim penangkapan disesuaikan dengan
musim keberadaan gurita di daerah penangkapan masing-masing. Pada musim
memijah, gurita akan lebih mudah untuk memasuki bubu daripada musim setelah
memijah, gurita susah untuk memasuki bubu.
Daerah penangkapan
Daerah penangkapan adalah daerah
penangkapan yang mempunyai dasar perairan lumpur berpasir, berarus kecil dengan
kedalaman antara 5-40 m. Daerah
penangkapan yang berarus cepat tidak cocok untuk pengoperasian bubu gurita.
Pemeliharaan alat
Pemeliharaan alat harus dilakukan
secara rutin. Semakin bersih semakin mudah gurita untuk memasuki bubu.
Pengadaan alat dan bahan
Bahan dan alat untuk pembuatan bubu
gurita bisa dicari di toko kelontong atau mencari cangkang kerang.
Kisaran harga satuan peralatan
Perahu tanpa motor / perahu motor
tempel Rp. 2.000000,- s/d Rp.5,000.000,-. Satu buah Bubu dan tali temali
Rp. 5000,- s/d Rp. 10.000,-
Sumber : Direktorat Jenderal Kelautan, Pesisir
dan Pulau-Pulau Kecil
Jl. Medan Merdeka Timur No. 16 Lantai 9 Tel. (021)3519070 (Hunting) Fax. (021)
3522560 Jakarta
Tidak ada komentar:
Posting Komentar