Ikan
lele adalah salah satu komoditas ikan air tawar yang masih menjadi primadona di
Indonesia. Disamping mudah dipelihara, harga ikan lele relatif terjangkau untuk
semua kalangan masyarakat. Tak heran, jika harganya terus melambung. Usaha
budidaya yang dilakukan secara intensif, akan memaksimalkan kapasitas produksi.
Masalah yang sering muncul pada usaha budidaya secara intensif ikan lele ialah
tingginya tingkat mortalitas benih ikan lele akibat sifat kanibalisme dalam
kegiatan pembenihan. Hal ini terjadi
karena sifat agresif yang tinggi akibat padat tebar pemeliharaan yang tinggi
sehingga membatasi ruang gerak dan meningkatkan tingkat persaingan makanan dan
oksigen. Upaya yang dilakukan selama ini dalam mengendalikan sifat kanibalisme
ini yaitu dengan melakukan penyortiran (grading) ukuran benih secara teratur
atau penjarangan kepadatan pemeliharaan benih.
Kanibalisme ikan lele akan terjadi
jika ada keterlambatan pemberian pakan, kurangnya pakan, dan adanya perbedaan
ukuran ikan lele dalam 1 kolam. Sehingga ikan lele yang lebih besar ukurannya
akan memangsa ikan lele lainnya yang lebih kecil ketika dalam kondisi lapar.
Karena ikan lele termasuk dalam kategori ikan karnivora yang memakan daging.
Selain itu kepadatan tebar juga akan
mengakibatkan sifat kanibal ikan lele. Akan ada ikan lele yang kurang lincah
tidak mendapatkan makanan saat diberikan pakan, karena harus rebutan dengan
ikan lele lainnya. Sehingga perkembangannya tidak sebanding dengan ikan lele
yang lincah lainnya. Maka pada saat kondisi lapar, ikan lincah yang bongsor
dengan ukuran lebih besar akan memangsa ikan lele lainnya.
“Namun,
upaya seperti ini dinilai masih kurang efisien karena mengurangi kepadatan
pemeliharaan dalam kapasitas produksi yang tersedia dan juga memerlukan
tambahan sarana produksi untuk menampung benih hasil sortiran atau
penjarangan,” demikian kata Ikbal Hadi, mahasiswa Departemen Budidaya Perairan
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) IPB, bersama Dosen Pendamping Ir.
Harton Arfah, M.Si. Alternatif upaya
lain yang dapat dilakukan dalam mengendalikan kanibalisme benih ikan lele pada
sistem budidaya intensif yaitu bisa melalui pendekatan secara hormonal. Riset yang dilakukan oleh Hseu J.R., pada
juvenil ikan kerapu membuktikan bahwa kanibalisme dipengaruhi oleh tingkat
konsentrasi hormon serotonin pada otak. Ikbal
Hadi bersama empat rekannya Asep El Qusairi, Ruly Ratannanda, M. Hasyim Al
Abror, dan Rezi Hidayat melakukan penelitian bertajuk “Efektivitas Pemberian
Ekstrak Buah Mengkudu Morinda cirtifolia L. Melalui Pakan Alami Terhadap Sifat
Kanibalisme Benih Ikan Lele Clarias sp. Pada Sistem Budidaya Intensif”. Melalui riset intensif yang dilakukan oleh
para ilmuwan di laboratorium, mengkudu menunjukkan keunggulan luar biasa.
Mengkudu mengandung zat scopoletin yang berguna dalam peningkatan kegiatan
kelenjar peneal di dalam otak, yang merupakan tempat dimana serotonin
diproduksi dan kemudian digunakan untuk menghasilkan hormon melatonin.
Serotonin adalah salah satu zat terpenting di dalam butiran darah (trombosit) yang melapisi saluran pencernaan dan otak. Di dalam otak, serotonin berperan sebagai neurotransmiter penghantar sinyal saran dan prekursor hormon melatonin. Serotonin dan melatonin membantu mengatur beberapa kegiatan tubuh seperti tidur, regulasi suhu badan, suasana hati (mood), masa pubertas dan siklus produksi sel telur, rasa lapar dan perilaku seksual. Kekurangan serotonin dalam tubuh dapat mengakibatkan penyakit migrain, pusing, depresi, bahkan juga penyakit Alzheimer.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar