Olahan ikan yang satu ini memang kerap kali dijadikan solusi
bagi sebagian orang yang malas memasak ikan segar. Selain, rasanya yang enak
dan gurih kemudahan pengolahan yang ditawarkan membuat sarden semakin akrab
saja di kalangan masyarakat. Bermacam olahan juga bisa dibuat dari olahan ikan
yang dikemas dalam wadah kaleng ini, mulai dari ditumis, dicampur sayuran
hijau, dimakan dengan roti tawar, dijadikan saus spaghetti, dll. Emmm.. Yummy..
Nah, penasaran kan asal muasal tercipta dan bagaimana cara Pembuatan Ikan Sardines ini??? Yuk, kita
intip bareng-bareng
Pengalengan ikan adalah salah satu teknik pengolahan dengan cara memanaskan ikan dalam wadah kaleng yang ditutup rapat untuk menonaktifkan enzim, membunuh mikroorganisme, dan mengubah ikan dalam bentuk mentah menjadi produk yang siap disajikan tetapi memiliki kandungan nilai gizi yang sedikit menurun karena proses denaturasi protein akibat proses pemanasan bila dibandingkan dengan ikan segar, namun lebih tinggi bila dibandingkan sumber protein nabati seperti tahu dan tempe.
Metode pengawetan dengan cara pengalengan ditemukan oleh
Nicholas Appert, seorang ilmuwan Prancis. Pengalengan makanan merupakan suatu
cara pengawetan bahan bahan makanan yang dikemas secara hermetis dan kemudian
disterilkan. Pengemasan secara hermetis dapat diartikan bahwa penutupannya sangat
rapat, sehingga tidak dapat ditembus oleh udara, air, kerusakan akibat
oksidasi, ataupun perubahan cita rasa. Di dalam pengalengan makanan, bahan
pangan dikemas secara hermetis (hermetic) dalam suatu wadah, baik kaleng,
gelas, atau alumunium.
Pada pengawetan pangan, secara teknis ada beberapa cara yang menggunakan prinsip mikrobiologis yaitu mengurangi jumlah seminimal mungkin mikroorganisme pembusuk, mengurangi kontaminasi mikroorganisme, menciptakan suasana lingkungan yang tidak disukai oleh mikroorganisme dengan cara pemanasan dan radiasi. Pemusnahan mikroorganisme dengan pemanasan pada pengalengan ikan pada prinsipnya menyebabkan denaturasi protein, serta menonaktifkan enzim yang membantu proses metabolisme. Penerpan panas dapat bermacam-macam tergantung dari jenis mikroorganismenya, fase mikroorganisme, dan kondisi lingkungan spora bakteri. Semakin rendah suhu yang diberikan semakin banyak waktu yang diperlukan untuk pemanasan. Pada pengalengan, yang perlu diwaspadai adalah bakteri anaerob seperti Closteridium botullinum yang tahan terhadap suhu tinggi.
TAHAPAN PENGALENGAN IKAN
A. Pengadaaan Bahan Baku Ikan Segar. Ikan
yang akan dijadikan sarden bisanya didapat dari nelayan ikan, ikan-ikan dijual langsung oleh pemilik
perahu atau dikumpulkan terlebih dahulu oleh pengepul. Ikan yang digunakan
sebagai bahan baku umumnya tergolong ikan pelagis ukuran kecil yang hidup
bergerombol seperti ikan Lemuru, ikan Sardin, ikan Tamban, ikan Balo, dan ikan
Layang.
B. Pengguntingan (cutting). Bahan baku ikan
segar yang sudah dibeli pabrik akan langsung diproses. Tahapan pertama disebut
dengan pengguntingan (cutting) alat yang digunakan adalah gunting besi. Ikan
digunting pada bagian pre dorsal (dekat dengan kepala) kebawah kemudian sedikit
ditarik untuk mengeluarkan isi perut. Ikan balo diberikan sedikit perlakuan
khusus yaitu sebelum digunting sisik-sisik yang terdapat diseluruh badannya
dihilangkan terlebih dahulu dengan menggunakan pisau. Dalam tahapan
pengguntingan juga dilakukan sortasi. Bahan baku ikan disortasi dari campuran
ikan yang lain dan dari sampah serta serpihan karang yang ikut terbawa saat
proses penangkapan ikan. Ikan yang sudah digunting ditempatkan dalam keranjang
plastik kecil. Setelah keranjang penuh, ikan dimasukkan dalam mesin rotary
untuk dilakukan proses pencucian.
C. Pengisian (Filling). Ikan yang keluar
dari mesin rotary ditampung dalam keranjang plastik, lalu dibawa ke meja
pengisian untuk diisikan kedalam kaleng. Diatas meja pengisian terdapat pipa
air yang digunakan untuk melakukan pencucian ulang sebelum ikan diisikan
kedalam kaleng. Posisi ikan didalam kaleng diatur, misalnya untuk membuat
produk kaleng kecil setelah penghitungan rendemen ditentukan bahwa jumlah ikan
yang diisikan kedalam kaleng adalah 4 ekor ikan. Ikan-ikan tersebut diisikan
dalam kaleng dengan posisi 2 buah pangkal ekor menghadap kebawah dan 2 ekor
lagi menghadap keatas. Kaleng yang sudah diisi ikan diletakkan diatas conveyor
yang terus berjalan disamping meja pengisian untuk masuk tahapan berikutnya.
D. Pemasakan Awal (Pree Cooking).Dengan bantuan
conveyor kaleng yang sudah terisi ikan masuk kedalam exhaust box yang
panjangnya +12 m, di dalam exhaust box ikan dimasak dengan menggunakan uap
panas yang dihasilkan oleh boiler. Suhu yang digunakan + 800C, proses pree
cooking ini berlangsung selama + 10 menit. Setelah proses pemasakan selesai
produk keluar dari exhaust box dilanjutkan dengan tahapan selanjutnya yaitu
penirisan (decanting).
E. Penghampaan (Exhausting).Penghampaan dilakukan
dengan menambahkan medium pengalengan berupa saos cabai atau saos tomat dan
minyak sayur (vegetable oil). Suhu saos dan minyak sayur yang digunakan adalah
+80 0C. Pengisian saos dilakukan secara mekanis dengan menggunakan filler. Pada
prinsipnya proses penghampaan ini dapat dilakukan melalui 2 macam cara,
biasanya pabrik berskala kecil exhausting dilakukan dengan cara melakukan
pemanasan pendahuluan terhadap produk, kemudian produk tersebut diisikan
kedalam kaleng dalam keadaan panas dan wadah ditutup, juga dalam keadaan masih
panas. Untuk beberapa jenis produk, exhausting dapat pula dilakukan dengan cara
menambahkan medium pengalengan misalnya air, sirup, saos, minyak, atau larutan
garam mendidih. Sedangkan, pabrik pengalengan berskala besar
melakukanexhausting dengan cara mekanis, dan dinamakan pengepakan vakum (vacuum
packed). Cara kerjanya adalah menarik oksigen dan gas-gas lain dari dalam
kaleng dan kemudian segera dilakukan penutupan wadah.
F. Penutupan Wadah Kaleng (Seaming). Penutupan
wadah kaleng dilakukan dengan menggunakan double seamer machine. Seorang
karyawan bertugas mengoprasikan double seamer machine dan mengisi tutup kaleng
kedalam mesin. Kecepatan yang digunakan bervariasi. Double seamer untuk kemasan
kaleng kotak dioprasikan dengan kecepatan penutupan 84 kaleng permenit
(kecepatan maximum 200 kaleng permenit), double seamer untuk kaleng kecil
dioperasikan dengan kecepatan penutupan 375 kaleng permenit (kecepatan maximum
500 kaleng permenit) sedangkan untuk double seamer kaleng besar dioperasikan
dengan kecepatan 200 kaleng permenit (kecepatan maximum 500 kaleng permenit).
Tutup kaleng yang dipakai adalah tutup kaleng yang sudah terlebih dahulu diberi
kode tanggal kedaluwarsa diruang jet print. Ruang jet print sengaja dibuat
berdekatan dengan ruang seamer sehingga tutup kaleng yang sudah diberi kode
dengan segera dapat dipakai untuk penutupan wadah kaleng. Nah, tanggal
kedaluwarsa ini penting banget buat kita. Sebelum membeli produk makanan apapun
tak terkecuali sarden perhatikanlah kode dibawah kaleng, lihat dengan seksama
tanggal kedaluwarsanya. Hal ini semata-mata untuk menjaga kesehatan kita. Di
pabrik pengalengan sendiri penentuan tanggal kedaluwarsa merupakan bagian yang
sangat penting. Jangka waktu kedaluwarsa telah ditentukan oleh pihak perusahaan
dengan berdasarkan pengujian makanan yang dilakukan oleh pihak perusahaan di
departemen kesehatan
G. Sterilisasi (Processing). Sterilisasi dilakukan
dengan menggunakan retort. Dalam satu kali proses sterilisasi dapat
mensterilkan 4 keranjang besi produkikan kalengan atau setara dengan +6.800
kaleng kecil atau 3.400 kaleng besar. Suhu yang digunakan antara 115 – 117 0C
dengan tekanan 0,8 atm, selama 85 menit jika yang disterilisasi adalah kaleng
kecil dan 105 menit untuk kaleng besar. Sterilisasi dilakukan dengan memasukkan
keranjang besi kedalam menggunakan bantuan rel. Sterilisasi dilakukan tidak
hanya bertujuan untuk menghancurkan mikroba pembusuk dan pathogen, tetapi
berguna untuk membuat produk menjadi cukup masak, yaitu dilihat dari
penampilan, tekstur dan cita rasanya sesuai dengan yang diinginkan.
H. Pendinginan dan Pengepakan. Ikan kalengan yang
sudah disterilisasi dikeluarkan dari dalam retort, kemudian diangkat dengan
katrol untuk didinginkan dalam bak pendinginan bervolume 16.5 m3 yang diisi
dengan air yang mengalir. Pendinginan dilakukan selama 15 menit. Produk setelah
didinginkan diistirahatkan terlebih dahulu ditempat pengistirahatan(Rested
area) untuk menunggu giliran pengepakan (packing). Packing diawali dengan
aktivitas pengelapan untuk membersihkan sisa air proses pendinginan, setelah
itu produk dimasukkan kedalam karton. Produk yang kemasannya sudah diberi label
(label cat) bisa langsung di packing, sementara produk yang kemasannya kosong
terlebih dahulu diberi label kertas sesuai dengan keinginan produsen.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar