Salah satu alat tangkap yang dipakai
untuk menangkap kepiting dan udang di perairan pantai adalah alat tangkap yang
disebut dengan bubu pintur atau di Sulawesi dikenal dengan sebutan bubu
rakkang. Alat tangkap ini umumnya memakai rangka dari bambu meskipun ada juga
yang memakai besi sebagai rangkanya. Bahan jaring yang digunakan umumnya
memakai potongan jaring bekas atau potongan dari jaring yang sudah tidak
dipakai lagi, oleh karena itu tidak ada spesifikasi khusus untuk membuatnya.
Potongan jaring yang biasanya dipakai adalah potongan bekas pembuatan jaring
insang.
Jenis
penangkapan dengan menggunakan bubu pintur dapat dilakukan sebagai mata
pencaharian sambilan atau sebagai mata pencaharian utama. Sebagai gambaran, di
bawah ini dijelaskan mengenai konstruksi, metode operasi, umpan yang dapat
dipakai, musim penangkapan dan daerah penangkapan dari pintur yang mungkin
dapat dijadikan sebagai acuan sebelum melakukan penangkapan dengan bubu pintur.
Konstruksi
Konstruksi pintur terdiri dari rangka
dan badan jaring, rangka terbuat dari bambu atau besi behel dengan diameter
antara 4 - 10 mm, sedangkan nomor jaring memakai nomor 210D/6-12 dengan mesh
size berkisar aritara 2.5-6.76 cm. Umpan diletakan di tengah-tengah
pintur dengan cara diikatkan pada salah satu rnata jaringnya. Untuk Pintur
tunggal ada juga yang dilengkapi dengan bambu yang panjangnya antara 1-2 m
sebagai tiang pancang pada waktu pintur dioperasikan.
Untuk
pintur yang tidak memakai pancang biasanya memakai tali yang dilengkapi dengan
pelampung sebagai tanda keberadaan pintur di perairan. Tali pelampung memakai
tali yang berdiameter 0.3 mm, sedangkan pelampungnya ada yang memakai potongan
bambu, karet bekas sandal, bekas botol aqua atau benda lainnya yang dapat
dijadikan sebagai pelampung.
Metode operasi
Alat
tangkap ini sifatnya pasif, dipasang menetap di tempat yang diperkirakan akan
dilewati oleh kepiting atau udang. Supaya kepiting atau udang mau memasuki
pintur, di tengah-tengah pintur diletakan umpan dengan cara diikatkan pada
salah satu mata jaringnya. Pengoperasian pintur dapat dioperasikan secara
tunggal dengan cara dipancangkan di perairan atau diset menetap dengan diberi
pelampung tanda atau ada juga yang dioperasikan secara beruntai. Dalam satu
kali operasi dapat dipasang mulai dari satu buah atau dipasang dalam jumlah
banyak. Pintur biasanya dipasang di pagi hari, siang hari atau sore hari
tergantung nelayan yang mengoperasikannya. Lama perendaman bervariasi mulai dan
2-3 jam sampai 12 jam. Operasi penangkapan semuanya dilakukan secara manual
baik tanpa perahu, dengan sampan atau memakai perahu motor tempel.
Alat bantu penangkapan
Alat
bantu penangkapan dapat memakai gardan yang dapat dibuat dari bambu, kayu atau
besi.
Jenis hasil tangkapan
Jenis-jenis
udang dan jenis-jenis kepiting
Perahu dan nelayan
Pengoperasiannya
ada yang tanpa mengunakan perahu, ada yang memakai sampan dan ada juga yang
memakai perahu motor tempel. Nelayan bubu pintur adalah nelayan tradisional
yang hanya mengoperasikan bubu pintur sebagai pekerjaan utama atau nelayan alat
tangkap lain yang mengoperasikan bubu pintur sebagai pekerjaan sambilan.
Umpan
Umpan
yang dipakai tidak menentu, biasanya memakai ikan apa saja atau potongan daging
ikan yang tersedia pada saat pintur akan dioperasikan.
Musim penangkapan
Musim
penangkapan umumnya dilakukan sepanjang tahun.
Daerah penangkapan
Daerah
penangkapan yang umum dijadikan tempat untuk pengoperasian pintur ialah
perairan pantai yang dangkal yang banyak dihuni udang dan kepiting. Kedalaman
perairan mulai dari yang kedalaman 1-10 m.
Pemeliharaan alat
Untuk
memelihara alat tangkap supaya tahan lama, setiap setelah dipergunakan
sebaiknya dibersihkan, yang rusak diperbaiki atau diganti dengan yang baru.
Sumber :
Direktorat Jenderal Kelautan, Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil
Jl. Medan Merdeka Timur No. 16 Lantai 9
Tel. (021)3519070 (Hunting) Fax. (021) 3522560 Jakarta
Tidak ada komentar:
Posting Komentar