A. Bahan Mentah (raw material)
Seperti halnya dengan cara-cara pengawetan ikan
lainnya,pengasapan tidak dapat menyembunyikan atau menutupi
karakteristik-karakteristik dari ikan yang sudah mundur mutunya. Oleh karena
itu, untuk mendapatkan ikan asap yang bermutu baik harus menggunakan bahan
mentah (ikan) yang masih segar. Sebagian besar dari penyebab rendahnya mutu
ikan asap ialah digunakannya ikan-ikan yang sudah hampir busuk yang akan
menghasilkan produk akhir yang lembek, lengket dan permukaannya tidak
cemerlang. Selain dari kesegarannya, faktor-faktor lainnya juga dapat
menentukan mutu dari produk akhir, misalnya pengaruh musim dan kondisi ikan
tersebut. Baru-baru ini telah ditemukan bahwa ikan asap yang dibuat dari ikan
kurus yang baru bertelur mempunyai rupa dan rasa yang kurang memuaskan bila
dibandingkan dengan ikan asap yang dibuat dari ikan-ikan gemuk dan dalam
kondisi yang sangat baik
B. Perlakuan-perlakuan Pendahuluan (pretreatments)
Di daerah-daerah perikanan, beberapa jenis ikan asap dibuat dari
ikan utuh atau sudah disaingi kadang-kadang tanpa kepala. Lainnya dalam bentuk
sayatan (fillet) atau dibelah dengan
berbagai cara, masing-masing dengan karakteristik tertentu. Satu hal yang harus
diingat yaitu cara apapun yang dilakukan ikan harus benar-benar dibersihkan
sebelum dilakukan proses pengawetan yang sebenarnya.
Perlakuan pendahuluan yang paling umum dilakukan ialah
penggaraman. Sekarang pada umumnya penggaraman dilakukan dengan cara
penggaraman basah atau larutan (brine
salting). Untuk mendapatkan perlakuan yang seragam campuran air garam dan
ikan harus sekali-sekali diaduk. Untuk mendapatkan ikan asap yang bermutu baik, larutan garam yang digunakan harus mempunyai kejenuhan
antara 70-80%. Larutan di atas 100% akan merusak produk yaitu dengan
terbentuknya kristal-kristal garam di atas permukaan ikan. Sebaliknya bila
menggunakan larutan garam yang kejenuhannya di bawah 50% akan menghasilkan ikan
asap yang kurang baik mutunya.
Karena banyaknya garam yang terserap oleh ikan yang merupakan
hal yang sangat penting pada proses pengawetan, maka kepekatan garam dalam
larutan harus selalu dikontrol.Seringkali penambahan garam ke dalam larutan
garam dilakukan secara sembarangan saja tanpa mengguankan salinometer (alat
untuk mengukur kepekatan garam). Sebaliknya setiap kelompok ikan (batch) harus menggunakan larutan garam
baru dan wadah-wadah harus dibersihkan, yaitu untuk mencegah terjadinya
pencemaran ikan oleh bakteri-bakteri dan kotoran-kotoran yang berasal dari
insang dan sisik ikan-ikan yang telah digarami sebelumnya. Efek lain yang dapat
timbulkan oleh pemakaian larutan garam bekas ialah adanya protein ikan yang
melarut dan ini akan membentuk gumpalan-gumpalan yang akan menempel pada ikan
hingga menyebabkan rupa ikan tidak menarik lagi.
C. Pengeringan Sebelum Pengasapan
Setelah penggaraman dan pencucian dengan air tawar, lalu
dilakukan tahap pengeringan yaitu untuk menghilangkan sebagian air sebelum
proses pengasapan. Pengeringan atau penirisan dapat dilakukan dengan cara
mengantung ikan di atas rak-rak pengering di udara yang terbuka. Hal ini dapat
dilakukan pada kondisi iklim di mana kelembaban nisbi rendah.Akan tetapi bila
iklim setempat mempunyai kelembaban yang tinggi hingga proses pengeringan
menjadi sangat lambat, maka tahap pengeringan harus dilakukan dalam lemari
pengering.
Protein ikan yang larut dalam garam akan membentuk lapisan yang
agak lengket dan setelah kering akan menyebabkan permukaan ikan menjadi
mengkilap. Kilap ini merupakan salah satu criteria yang diinginkan pada ikan asap
yang bermutu baik. Kilap yang baik dapat diperoleh dengan menggunakan larutan
garam yang mempunyai kejenuhan 70 – 80%, sedangkan kejenuhan yang lebih rendah
akan mengakibatkan rupa yang agak suram.
Sumber :
http://a289431program.blogspot.com/2012/12/informasi-teknologi-perikanan.html.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar