Pendahuluan
Pengolahan
ikan yang sekaligus merupakan cara pengawetan ikan banyak dilakukan terutama
pada musim ikan berlimpah. Teknologi
pengolahan ikan secara tradisional yang sering digunakan antara lain
penggaraman, pengeringan, dan pengasapan.
Pengolahan dengan cara
pengasapan berpengaruh baik terhadap mutu dan daya awet produk ikan asap. Cara pengasapan mulai dari cara persiapan
bahan, jenis asap yang digunakan, metode pengasapan, suhu pengasapan dan
tingkat kekeringan prodak sangat mempengaruhi mutu dan daya awet produknya.
Ada
berbagai cara pengasapan yang telah diterapkan di beberapa daerah di Indonesia,
cara pengasapan tersebut biasanya dipengaruhi oleh banyak faktor terutama
kebiasaan hidup nelayan atau pengolah ikan di daerah pengasapan.
Pada
dasarnya ada dua cara pengasapan yaitu pengasapan dingin dibawah 30 0C,
dan pengasapan panas pada temperatur sekitar 90 0C. namun demikian BBRP2B (Balai Besar Riset
Pengolahan Produk dan Bioteknologi) telah mengembangkan cara pengasapan ikan
dengan menggunakan alat (lemari) pengasap yang tidak termasuk dalam pengasapan
dingin ataupun pengasapan panas melainkan memakai suhu pengasapan antara 50-85 0C. Pengasapan dilakukan secara bertahap yang
menghasilkan prodak ikan asap dengan kualitas yang sangat baik.
Bahan dan Alat
Baha
- Ikan Segar berukuran 2-3 ekor/kg
- Garam
- Arang, sabut dan tempurung
kelapa
- Kantong plastik polietilen
Alat
- Pisau
- Talenan
- Timbangan
- Bak dan Keranjang Plastik
- Lemari pengasap
- Plastic / sealer
Cara pengolahan
Ikan yang akan diolah
harus dalam keadaan segar dan tidak mengalami cacat fisik. Ikan dicuci bersih untuk menghilangkan lumpur
dan kotoran lainnya. Kemudian disiangi
dengan cara membelah bagian bawah perut ikan hingga sampai ke dekat bagian
anus. Isi perut dan lapisan hitam yang
melekat pada dinding serta insangnya dibuang, lalu dilakukan pembilasan dengan
air bersih yang mengalir. Ikan yang
telah dicuci ditampung dalam keranjang plastic dan dibiarkan beberapa saat
untuk penirisan air cucian.
Ikan dimasukan kedalam bak
yang berisi larutan garam jenuh (3 kg garam dalam 10 L air Perendaman
dilakukan selama 30 menit. Tujuan dari
perendaman dalam larutan garam ini selain untuk meningkatkan rasa dan tekstur
ikan, menambah daya awet sekaligus membersihkan sisa darah dan kotoran lainnya
yang masih tertinggal. Setelah
perendaman ikan dibilas dengan air tawar dan ditampung kembali dalam keranjang
plastic untuk ditiriskan.
Ikan
yang sudah dibersihkan dan digarami tersebut disusun di atas try dan disarankan
jangan terlalu rapat, ini dimaksudkan agar aliran asap dapat mengenai semua try
yang disusun dalam rumah asap. Sebaiknya
bagian punggung ikan menghadap try. Cara
lain ikan digantung pada batang besi dengan kepala di atas.
Sementara itu siapkan
lemari asap dengan membakar arang didalamnya, kemudian tambahkan sabut dan
tempurung kelapa secukupnya sehingga dihasilkan asap yang cukup tebal. Masukan
ikan kedalam lemari asap dan pintu lemari di tutup rapat. Pengasapan dilakukan dengan dua tahap, yaitu
pertama dengan suhu 55-60 0C selama 4 jam dan dilanjutkan dengan
pengasapan dengan suhu 75-80 0C selama 2 jam. Setelah pengasapan ikan disimpan dalam
ruangan yang bersih dan dibiarkan hingga mencapai suhu ruang. Kemudian dikemas dalam kantong-kantong plastik
polietilen untuk pemasaran
Sumber :
Balai Besar
Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan
Jl. KS Tubun – Petamburan VI, Slipi,
Jakarta Pusat 10260
Telp. (021)
53650157 ; Fax : (021) 5360158
Tidak ada komentar:
Posting Komentar